Kades Kembangkuning Bantah Kematian Satpam PJT II Terkait Vandalisme Anak Motor

Foto : Kepala Desa Kembangkuning, Halim Wahyu, memberikan keterangan terkait tewasnya Sumarna, satpam PJT II, di Tanggul Kayat, Jatiluhur, Purwakarta. (istimewa)

POJOKJABAR.COM, PURWAKARTA – Kepala Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Halim Wahyu, membantah kabar yang menyebut kematian Sumarna, seorang satpam PJT II, berkaitan dengan aksi vandalisme yang dilakukan kelompok anak motor di kawasan Tanggul Kayat.


Klarifikasi tersebut disampaikan Halim dalam wawancara yang diunggah akun media sosial @bangranistones pada Jumat (31/7/2026), menyusul beredarnya berbagai spekulasi di media sosial.

Halim menegaskan, korban memang menemukan coretan-coretan di kawasan Tanggul Kayat saat bertugas. Namun, korban tidak pernah melihat secara langsung siapa pelakunya.

“Jadi ketika dia sedang bertugas sebagai sekuriti di Bendungan Tanggul Kayat PJT, dia menemukan coretan-coretan yang ada di jalan Tanggul Kayat tersebut. Tapi dia tidak melihat siapa yang melakukan itu,” ujar Halim.


Ia juga membantah narasi yang menyebut korban memergoki pelaku vandalisme hingga terjadi konflik.

“Tidak, tidak memergoki,” tegasnya.

Menurut Halim, karena terdapat nama kelompok tertentu di dalam coretan tersebut, korban hanya berinisiatif menanyakan kepada salah seorang anggota kelompok yang namanya tertulis. Percakapan itu berlangsung biasa tanpa adanya cekcok maupun ancaman.

“Korban hanya menyampaikan kalau ada yang mengaku melakukan itu, tolong dihapus saja,” katanya.

Halim memastikan tidak ada keributan dalam pertemuan tersebut. Bahkan, orang yang diajak berbicara menerima masukan korban dengan baik dan berjanji akan menyampaikan kepada rekan-rekannya agar coretan itu dihapus apabila benar dibuat oleh mereka.

Selain itu, Halim mengungkapkan korban dan orang yang ditegur saling mengenal karena tinggal di lingkungan yang sama.

Mengenai sosok Sumarna, Halim menilai korban dikenal sebagai pribadi yang baik, mudah diajak bekerja sama, dan tidak pernah memiliki persoalan dengan warga.

“Kalau yang saya tahu, sebagai danton dia baik. Ketika saya butuh dia, gampang sekali. Tidak pernah menanyakan operasional atau apa kepada saya,” ungkapnya.

Ia juga mengaku tidak pernah mendengar korban memiliki konflik pribadi ataupun terlibat keributan dengan siapa pun.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang yang mengaitkan kematian Sumarna dengan aksi vandalisme maupun kelompok anak motor yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari aparat penegak hukum.