Karawang Tak Lagi Sepi! Tati Maryati Ungkap Perubahan Besar Pasir Jengkol dalam 6 Tahun

Foto: Kantor Desa Pasirjengkol Majalaya, Karawang. (Pojoksatu/Rohendi)

POJOKJABAR.COM, KARAWANG — Memasuki enam tahun kepemimpinannya, Kepala Desa Pasir Jengkol, Tati Maryati, S.E., menilai kondisi sosial dan ekonomi masyarakat menunjukkan perkembangan positif.


Menurut Tati, perubahan tersebut terlihat dari semakin berkembangnya aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah desa.

Salah satunya di jalur Pasir Ela yang sebelumnya relatif sepi, namun kini mulai dipenuhi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ruko, serta berbagai aktivitas perdagangan.

“Kalau menurut saya dan berdasarkan suara dari masyarakat, dari sisi ekonomi sudah terlihat perubahan. Jalur Pasir Ela yang tadinya sepi, sekarang sudah ada UMKM, ruko dan berbagai usaha lainnya,” ujar Tati pada Kamis (20/8/2026).


Perkembangan tersebut, lanjutnya, membuat masyarakat semakin mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus pergi jauh ke luar desa.

“Artinya, masyarakat tidak perlu jauh-jauh keluar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarang sudah banyak pilihan untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan di lingkungan sendiri,” katanya.

Selain sektor ekonomi, Tati menyebut kondisi keamanan dan sosial di Desa Pasir Jengkol juga relatif kondusif.

Sejumlah persoalan yang muncul masih dapat ditangani melalui koordinasi dengan masyarakat dan perangkat desa.

“Untuk keamanan juga ada perubahan ke arah perbaikan. Kalau untuk persoalan sosial, sejauh ini tidak ada kasus yang berarti. Masih bisa kami tangani bersama,” ujarnya.

Meski demikian, persoalan kebersihan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah desa.

Terutama di sejumlah lahan kosong milik pribadi yang tidak terawat dan kemudian dimanfaatkan sebagian orang sebagai lokasi pembuangan sampah liar.

Menurut Tati, persoalan tersebut cukup sulit ditangani karena sebagian pemilik lahan berada di luar daerah dan belum melakukan pengelolaan terhadap lahannya.

“Ini yang menjadi masalah. Ada lahan milik pribadi yang pemiliknya berada di luar daerah, sehingga kurang terawat dan akhirnya dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah liar,” katanya.

Pemerintah desa, lanjut Tati, rutin melakukan kerja bakti setiap Sabtu. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergilir dengan menyasar titik-titik yang rawan menjadi lokasi pembuangan sampah.

“Setiap Sabtu kami melakukan kerja bakti rutin. Keliling dari Dusun 1 sampai Dusun 5 secara bergiliran. Salah satu fokusnya membersihkan titik-titik kosong yang rawan dijadikan tempat pembuangan sampah,” ujarnya.

Selain membersihkan lingkungan, pemerintah desa juga terus berkomunikasi dengan pemilik lahan agar turut menjaga dan mengamankan aset mereka, termasuk dengan memasang pembatas atau pagar apabila memungkinkan.

Namun, Tati mengakui penanganan persoalan tersebut belum mudah. Sebab, setelah dibersihkan, beberapa lokasi kembali digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.

“Kalau tidak dibersihkan secara rutin, biasanya muncul lagi. Dibersihkan, muncul lagi. Karena itu kami terus berupaya dan berkomunikasi dengan pemilik lahan agar persoalan ini bisa ditangani bersama,” pungkasnya.