POJOKJABAR.com, KARAWANG – Seni qasidah tidak boleh lagi dipandang sebagai hiburan tradisional biasa. Di tengah perkembangan zaman, qasidah harus mampu tampil lebih profesional, modern, dan memiliki daya saing yang kuat.
Pesan itu disampaikan Ketua Umum DPD LASQI NJ Kabupaten Karawang, H. Endang Sodikin, saat membuka Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Seniman dan Budayawan yang digelar di Brits Hotel Karawang pada 30-31 Mei 2026.
Menurut Endang, qasidah bukan hanya sekadar pertunjukan musik, tetapi juga menjadi salah satu media dakwah Islam yang memiliki peran penting di tengah masyarakat.
Karena itu, penguatan organisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi langkah yang harus terus dilakukan.
“Melalui pelatihan ini, kami menargetkan revitalisasi kepengurusan secara menyeluruh. Kepengurusan di tingkat kecamatan sudah terbentuk 100 persen, selanjutnya akan kami lanjutkan hingga tingkat desa dan kelurahan,” kata Endang.
Ia menjelaskan, revitalisasi yang dilakukan bukan sekadar menyusun struktur organisasi atau melengkapi administrasi kepengurusan.
Lebih dari itu, para pengurus harus mampu menjadi penggerak seni qasidah di wilayahnya masing-masing, membina para pelaku seni, serta mengembangkan potensi yang ada di masyarakat.
Menurut Endang, keberadaan organisasi yang kuat akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas para seniman qasidah di Karawang.
Ia juga menyoroti kekhasan seni qasidah Karawang yang dinilai memiliki karakter berbeda dibandingkan daerah lain.
Keunikan tersebut terlihat dari pola ketukan, variasi tepak, hingga harmonisasi permainan musik yang membutuhkan kekompakan dan latihan yang tidak sederhana.
Karakter inilah yang membuat penampilan grup qasidah Karawang sering mendapat perhatian saat tampil dalam berbagai kegiatan, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
Namun demikian, Endang mengakui masih ada sebagian masyarakat yang memandang qasidah sebagai kesenian tradisional yang sederhana.
Karena itu, LASQI Karawang berkomitmen mengubah stigma tersebut melalui peningkatan kualitas SDM, pembinaan berkelanjutan, serta penguatan manajemen organisasi.
“Kita ingin menghapus anggapan lama bahwa qasidah hanya sekadar band tradisional. Qasidah adalah seni yang memiliki nilai tinggi dengan kekayaan variasi musik yang luar biasa. Kalau dikelola dengan baik, qasidah Karawang bisa semakin berkembang dan menjadi kebanggaan daerah,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, LASQI Karawang berharap para pengurus dan pelaku seni semakin siap menghadapi tantangan zaman, sekaligus mampu menjaga eksistensi qasidah sebagai media dakwah dan bagian penting dari kekayaan budaya daerah.
Dengan pengurus yang aktif hingga tingkat desa dan kelurahan, LASQI optimistis pembinaan akan berjalan lebih efektif dan mampu melahirkan generasi baru yang siap membawa prestasi bagi Karawang di tingkat regional maupun nasional. (Rohendi/Pojokjabar)