RSUD Jatisari Segera Punya Unit Pengelola Darah, Target Beroperasi April 2026

Spesialis Patologi Klinik RSUD Jatisari, dr. Ilmi Cahya Ruslina, menjelaskan persiapan operasional Unit Pengelola Darah yang dijadwalkan diresmikan setelah Idulfitri 2026.

POJOKJABAR.com, KARAWANG – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jatisari kini bersiap memiliki Unit Pengelola Darah (UPD) sebagai penguatan layanan kesehatan bagi masyarakat Karawang. Sebelumnya, rumah sakit ini hanya memiliki layanan transfusi darah dan masih bergantung pada pasokan dari Palang Merah Indonesia (PMI).


Spesialis Patologi Klinik RSUD Jatisari, dr. Ilmi Cahya Ruslina, menjelaskan bahwa peresmian UPD dijadwalkan setelah Idulfitri 2026. Ia menyebut, perubahan ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kemandirian layanan darah di lingkungan rumah sakit.

“Layanan terbaru ini akan diresmikan setelah Idulfitri. Dulu kami hanya memiliki Unit Transfusi Darah di Kenanga. Sekarang kami sudah mempunyai Unit Pengelola Darah atau UPD,” ujarnya.

Sebelumnya, RSUD Jatisari masih mengajukan permintaan pasokan darah dari PMI untuk memenuhi kebutuhan pasien. Namun sejak 13 Februari 2026, izin operasional UPD telah resmi diterbitkan. Saat ini, manajemen tengah melakukan pelatihan tenaga, konsolidasi internal, serta melengkapi peralatan medis pendukung.


“Kami targetkan siap beroperasi sekitar April. Saat ini pasien sudah ada, tetapi penyediaan darah masih belum mandiri,” katanya.

Setelah resmi beroperasi, RSUD Jatisari akan mengelola pengadaan dan distribusi darah secara mandiri, termasuk layanan transfusi sebagaimana yang selama ini dilakukan PMI. Pada tahap awal, rumah sakit akan menggelar kegiatan donor darah khusus untuk memenuhi kebutuhan stok. Jika jumlah pendonor terus meningkat, manajemen berencana membentuk unit donor darah keliling guna menjangkau lebih banyak masyarakat.

dr. Ilmi menegaskan bahwa setiap darah yang diterima wajib memenuhi standar dan persyaratan kesehatan. Dalam operasionalnya, UPD tidak hanya menyediakan layanan transfusi darah utuh, tetapi juga menerapkan metode pemisahan komponen darah sesuai kebutuhan medis pasien.

Darah yang didonorkan akan diproses menjadi beberapa komponen, seperti sel darah merah pekat (Pack Red Cell), trombosit, dan plasma darah. Komponen ini kemudian diberikan sesuai indikasi medis masing-masing pasien.

Saat ini terdapat delapan tenaga teknis medis dan 15 tenaga nonmedis yang mendukung operasional UPD. Manajemen terus berupaya menyiapkan ketersediaan stok darah secara mandiri agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi dengan cepat dan tepat.

Kebutuhan darah di RSUD Jatisari mencapai sekitar 200 kantong per bulan, dengan volume 350 hingga 450 mililiter per kantong. Dalam tiga bulan terakhir, kebutuhan darah berkisar antara 150 hingga 200 kantong per bulan.

Pada tahap awal operasional, unit ini akan memprioritaskan tiga komponen utama. Pertama, sel darah merah atau Pack Red Cell yang dibutuhkan untuk pasien anemia dan perdarahan. Kedua, trombosit yang sangat penting bagi pasien demam berdarah dengan kadar trombosit rendah. Ketiga, plasma darah yang mengandung faktor pembekuan dan dibutuhkan pasien dengan gangguan pembekuan darah atau kondisi perdarahan.

“Pasien dengan gangguan pembekuan darah atau perdarahan membutuhkan transfusi plasma,” ujarnya.

Selain itu, sel darah merah juga dibutuhkan pasien anemia, pasien kanker—terutama kanker darah—dengan kadar hemoglobin rendah, serta pasien hemodialisis yang umumnya datang dengan kondisi hemoglobin rendah sehingga memerlukan transfusi. (Ega Nugraha/Pojoksatu)