Pertamina Regional JBB Dorong Inovasi Pakan Ikan dari Limbah Daun Sirih, Warga Mekarsari Jadi Pelaku Konservasi

Pertamina Patra Niaga Regional JBB dukung warga Mekarsari olah limbah daun sirih jadi pakan ikan Toman.

POJOKJABAR.com, Jakarta – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Soekarno-Hatta Fuel Terminal & Hydrant Installation (SHAFTHI) kembali menegaskan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.


Pada Rabu (24/9), di Kelurahan Mekarsari, Jakarta, Pertamina bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) meluncurkan program pengolahan limbah daun sirih menjadi pakan fungsional bagi ikan Toman, spesies langka yang tengah dikonservasi.

Inovasi ini tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga Mekarsari.

Daun sirih yang sebelumnya dianggap limbah kini diolah menjadi sumber daya bernilai tinggi.


“Melalui inovasi ini, kami ingin membuktikan bahwa limbah bisa diolah menjadi sumber daya bernilai. Tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga mendukung konservasi ikan langka seperti Toman,” ujar Chandra Julianto, Senior Supervisor HSSE Pertamina Patra Niaga Regional JBB.

Program ini juga memberi ruang partisipasi langsung bagi masyarakat. Ketua RW 003 Mekarsari, Alex Eko Setiawan, menegaskan manfaatnya bagi warga.

“Pertamina telah membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat langsung. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam konservasi ini,” ucap Alex.

Dukungan serupa datang dari Susanto August Satria, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional JBB.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung inovasi program keberlanjutan di Desa Mekarsari yang berperan penting dalam menjaga lingkungan dan memberdayakan masyarakat. Kami berharap program ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain,” ujarnya.

Ke depan, Pertamina Patra Niaga berencana memperluas penerapan pakan fungsional berbasis daun sirih, tidak hanya untuk ikan Toman, tetapi juga jenis ikan lokal lain yang berpotensi terancam.

Langkah ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 14 tentang kehidupan di bawah air.