POJOKJABAR.com, KARAWANG – Saat aktivitas warga mulai menggeliat di pagi hari, Herna (32) pemuda lajang , yang akrab disapa Kampeng, sudah berada di garis depan pelayanan lingkungan.
Tepat pukul 07.00 WIB, ketika matahari mulai membiaskan sinarnya, ia sudah menarik tuas gas motor sampah “Cator”, untuk menyisir gang-gang di lingkungan Citeureup RW 14, Kelurahan Palumbonsari, Karawang.
Bagi Kampeng, pekerjaan ini bukan sekadar urusan memindahkan kotoran, melainkan sebuah bentuk syukur dan pengabdian demi menyambung hidup keluarga.
Dedikasi Kampeng di dunia pengelolaan sampah dimulai sejak tahun 2022. Berawal dari keinginan untuk tidak berdiam diri menganggur, ia bekerja sama dengan pengurus RT dan RW setempat untuk mengatasi persoalan sampah yang kerap menjadi momok lingkungan.
“Alhamdulillah, ini pekerjaan yang patut disyukuri. Daripada menganggur, saya pilih jalan ini untuk bertahan hidup,” ujar Kampeng dengan nada rendah hati saat ditemui di sela aktivitasnya.Senin(11/5/2026).
Kini, tugasnya semakin ringan berkat dukungan dari Ketua DPRD, Pak Haji Endang Sadikin, yang memberikan bantuan satu unit motor sampah (Cator) melalui dana aspirasi.
Fasilitas ini menjadi tulang punggung bagi Kampeng dan rekannya dalam melayani empat wilayah RT setiap harinya.
Bersama timnya, termasuk Doni (Ugi), Kampeng tidak hanya mengangkut sampah dari depan rumah warga ke TPS 3R di Jalan Baru.
Mereka membawa misi yang lebih besar Edukasi.Herna berupaya menanamkan konsep 3R (Reuse, Reduce, Recycle) kepada masyarakat.
Ia tak lelah mengingatkan warga untuk memilah sampah organik dan non-organik, serta yang paling krusial, jangan membuang sampah ke sungai.
“Kami selalu mengedukasi warga agar tidak buang sampah sembarangan, apalagi ke sungai karena akibatnya banjir. Keluh kesahnya memang masih ada warga yang belum sadar, tapi itu tugas kami untuk terus mengingatkan,” tambahnya.
Terkait operasional, Kampeng menjelaskan bahwa tim pengelola sampah menerapkan iuran sebesar Rp30.000 per bulan.
Nominal tersebut merupakan hasil kesepakatan dengan tokoh masyarakat dan aparatur setempat.
Namun, uang tersebut tidak langsung masuk ke kantong pribadi. Dana itu dibagi untuk beberapa kebutuhan,
Iuran ke pengelola sampah induk.
Biaya pemeliharaan armada motor Catur.
Upah bagi para petugas (operasional keluarga).
“Kalau lancar semua, penghasilan bisa sekitar 1,5 juta rupiah per bulan. Tapi namanya di masyarakat, ada saja yang menunggak satu atau dua bulan. Kami memaklumi kondisi ekonomi setiap warga berbeda,” katanya.
Herna dan timnya memegang teguh komitmen untuk mengangkut sampah setiap hari dari pagi hingga siang hari.
Prinsip mereka sederhana, tidak boleh ada penumpukan. Dengan gerak cepat, sampah yang terkumpul langsung dikirim ke TPS 3R agar lingkungan tetap asri dan sehat.
Melalui keringat Herna ‘Kampeng’, warga Citeureup tidak hanya mendapatkan lingkungan yang bersih, tetapi juga teladan tentang bagaimana sebuah profesi sederhana, jika dilakukan dengan ikhlas dan komitmen, mampu memberikan dampak besar bagi kelestarian alam. (Rohendi/Pojokjabar)