POJOKJABAR.com, KARAWANG – Pemandangan berbeda tersaji dalam gelaran kirab budaya yang menghadirkan tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Karawang.
Di tengah lautan warga yang memadati sepanjang rute kirab, perhatian publik justru tertuju pada sosok perempuan yang tampil gagah namun tetap anggun di atas punggung kuda.
Ia adalah Sri Rahayu Agustina, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Golkar, yang memilih cara tak biasa untuk menyapa masyarakat.
Alih-alih berada di dalam kendaraan mewah dengan pengawalan ketat, Sri Rahayu justru ikut memacu kuda dalam barisan pengawal kirab budaya yang mengiringi Kang Dedi Mulyadi atau KDM.
Penampilannya sontak mencuri perhatian warga. Dengan balutan pakaian khas bernuansa budaya Sunda yang selaras dengan tema kirab, Sri Rahayu terlihat piawai mengendalikan kuda di tengah kerumunan masyarakat yang antusias menyambut rombongan.
Keikutsertaan legislator perempuan asal Karawang itu bukan sekadar aksi seremonial atau gimik visual belaka. Ada pesan budaya dan kedekatan dengan masyarakat yang ingin ia tunjukkan melalui penampilannya tersebut.
Menurut Sri Rahayu, berkuda menjadi simbol ketangguhan sekaligus bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur yang harus terus dijaga di tengah derasnya arus modernisasi.
“Ini bukan hanya soal mengawal Kang Dedi Mulyadi, tapi soal bagaimana kita melestarikan nilai-nilai budaya Jawa Barat. Turun ke jalan dengan berkuda membuat saya merasa lebih dekat dan bisa mendengar langsung suara masyarakat tanpa batasan,” ujar Sri Rahayu.
Aksi “Srikandi” parlemen asal Karawang itu pun menuai decak kagum dari warga yang memadati lokasi kirab budaya. Tidak sedikit masyarakat yang mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel mereka.
Kehadiran Sri Rahayu memberikan warna tersendiri dalam barisan pendukung KDM. Sosoknya dinilai mampu menunjukkan bahwa perempuan dalam dunia politik tidak hanya aktif di ruang rapat dan forum formal, tetapi juga mampu hadir langsung di tengah masyarakat dengan membawa identitas budaya lokal.
Momentum kirab budaya tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa tradisi daerah masih memiliki tempat di hati masyarakat Jawa Barat. Kehadiran tokoh publik yang ikut terlibat secara langsung dinilai mampu membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya tradisional.
Di tengah gempuran modernisasi dan gaya hidup digital yang semakin kuat, simbol-simbol budaya seperti kirab, pakaian adat, hingga tradisi berkuda dianggap menjadi cara efektif untuk menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah masyarakat.
Keterlibatan Sri Rahayu Agustina dalam kegiatan budaya itu diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk berani tampil aktif di ruang publik tanpa meninggalkan akar budaya daerahnya. (Rohendi/Pojokjabar)