POJOKJABAR.com, KARAWANG – Sebanyak 40 santri dari Pondok Pesantren Lestari Alam Qur’ani, Rawamerta, Karawang, kembali ke daerah asal mereka dengan semangat baru setelah mengikuti Pelatihan Kader Kesadaran Bela Negara (PKBN) di Dodikjur Rindam III/Siliwangi, Bandung.
Kepulangan para santri tersebut disambut dalam suasana penuh khidmat di Markas Kodim 0604/Karawang. Selama tiga hari, sejak Sabtu (18/04), para santri menjalani berbagai rangkaian pelatihan yang tidak hanya mengasah fisik, tetapi juga membentuk mental dan wawasan kebangsaan.
Pelatihan yang digelar oleh institusi militer ini menjadi pengalaman berharga bagi para santri. Mereka tidak hanya mendapatkan materi tentang kedisiplinan dan bela negara, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang menyentuh sisi emosional.
Salah satu peserta, Rafi Ahmad Mulyana, mengungkapkan kesan mendalam selama mengikuti pelatihan tersebut. Ia menyebut, pengalaman paling membekas justru bukan saat menjalani latihan fisik yang keras, melainkan momen kebersamaan saat kegiatan api unggun.
Menurutnya, suasana hangat dan penuh kebersamaan saat api unggun menjadi ruang refleksi yang sangat berarti. Para pelatih tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga berbagi kisah kehidupan yang menyentuh hati.
“Pengalaman di sana sangat luar biasa. Kami belajar banyak hal, terutama tentang arti kasih sayang orang tua dan pentingnya menghargai perjuangan mereka,” ujar Rafi saat ditemui usai kepulangan di Karawang.
Ia menambahkan, nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikan para instruktur menjadi bekal penting yang akan ia bagikan kepada teman-temannya di lingkungan pesantren.
Tidak hanya Rafi, seluruh peserta pelatihan merasakan dampak positif dari program PKBN tersebut. Mereka mengaku mendapatkan perspektif baru tentang peran generasi muda dalam menjaga keutuhan bangsa.
Guru pendamping, Favian Jiwani Fakhrudin, turut menyampaikan rasa bangga atas perubahan yang ditunjukkan para santri. Ia menilai, kolaborasi antara pesantren dan TNI memberikan pengalaman edukatif yang tidak bisa didapatkan di ruang kelas biasa.
Menurut Favian, pelatihan ini menjadi pelengkap pendidikan yang selama ini diterima para santri di pondok pesantren. Jika sebelumnya mereka lebih fokus pada ilmu agama, kini mereka juga memiliki wawasan kebangsaan yang lebih luas.
“Alhamdulillah, anak-anak merasa senang dan antusias. Mereka mendapatkan pengalaman baru yang sangat bermanfaat, terutama dalam membangun karakter disiplin dan rasa cinta tanah air,” ungkapnya.
Favian juga memastikan bahwa seluruh santri dalam kondisi sehat setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia mengapresiasi kesiapan fisik dan mental para peserta yang mampu menyelesaikan pelatihan tanpa kendala berarti.
“Semua santri yang berangkat sebanyak 40 orang, alhamdulillah kembali dalam keadaan sehat dan mengikuti seluruh kegiatan dengan baik,” tegasnya.
Meski berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, yakni hanya tiga hari, pelatihan ini mampu menciptakan ikatan emosional yang kuat antara santri, pelatih, dan lingkungan militer.
Kebersamaan yang terjalin selama pelatihan menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter para peserta. Mereka tidak hanya belajar tentang kedisiplinan, tetapi juga tentang kerja sama, solidaritas, dan rasa tanggung jawab.
Pihak pondok pesantren pun tidak ingin momentum positif ini berhenti begitu saja. Mereka telah merencanakan berbagai kegiatan lanjutan untuk menjaga semangat yang telah terbentuk selama pelatihan.
Salah satu rencana yang akan dilakukan adalah mengadakan reuni bagi para peserta PKBN. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat kembali hubungan yang telah terjalin serta mengingatkan kembali nilai-nilai yang telah dipelajari.
“Ke depan, kami ingin ada kegiatan lanjutan seperti reuni agar semangat kebersamaan dan kedisiplinan tetap terjaga,” jelas Favian.
Ia berharap, para santri dapat menjadi agen perubahan di lingkungan pesantren maupun masyarakat. Dengan bekal yang telah didapatkan, mereka diharapkan mampu menjadi teladan dalam hal kedisiplinan dan cinta tanah air.
Lebih jauh, Favian menekankan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidak hanya sebagai generasi penerus, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam membangun bangsa yang berkarakter.
Kembalinya para santri ke Rawamerta diharapkan membawa dampak positif yang luas. Mereka diharapkan mampu menularkan semangat baru kepada rekan-rekan lainnya di pesantren.
Selain itu, pelatihan ini juga menjadi bukti bahwa sinergi antara lembaga pendidikan dan institusi negara dapat memberikan kontribusi nyata dalam membentuk generasi muda yang berkualitas.
Program PKBN sendiri merupakan salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai bela negara sejak dini. Melalui pendekatan yang humanis dan edukatif, program ini mampu menarik minat generasi muda, termasuk kalangan santri.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Para santri yang telah mengikuti pelatihan ini kini membawa tanggung jawab baru. Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lingkungan sekitar.
Mereka diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan yang disiplin, harmonis, dan penuh semangat kebangsaan.
Kisah para santri ini menjadi inspirasi bahwa pendidikan karakter tidak hanya bisa didapatkan di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan.
Pelatihan di Dodikjur Rindam III/Siliwangi telah memberikan warna baru dalam perjalanan pendidikan mereka. Sebuah pengalaman yang tidak hanya membekas, tetapi juga membentuk masa depan mereka sebagai generasi penerus bangsa. (Rohendi/Pojokjabar)