Kisah Memed Eks Napi, Kini Sukses Panen Tonan Bebek Peking Bersama Kodim Karawang

Memed, mantan narapidana, saat memantau ribuan bebek Peking di kandang budidaya Kodim 0604/Karawang.

POJOKJABAR.com, KARAWANG – Aroma khas kandang bebek di Kompi Produksi Ketahanan Pangan Kodim 0604/Karawang bukan sekadar bau ternak bagi Ahmadia (41), atau yang akrab disapa Memed. Di tempat itulah, ia menemukan kembali arti kebebasan, harapan, dan martabat hidup yang sempat hilang.


Bagi pria yang kini menjadi tulang punggung keluarga dengan tiga anak tersebut, perjalanan menuju titik ini bukanlah kisah yang mudah. Masa lalunya sempat diwarnai kehidupan keras hingga membuatnya harus menjalani hukuman selama 2,5 tahun di balik jeruji besi akibat kasus hukum yang menjeratnya.

Namun, dari tempat yang gelap itulah, titik balik kehidupannya justru dimulai.

Alih-alih terpuruk, Memed memilih memanfaatkan waktu di dalam lembaga pemasyarakatan untuk belajar. Ia mengikuti pelatihan budidaya ternak hingga akhirnya mengantongi sertifikat resmi sebagai bekal untuk memulai hidup baru.


“Dulu hidup saya tidak terarah. Tapi saya keluar dari sana dengan membawa ilmu, meski tanpa modal,” kenangnya.

Kesempatan emas datang secara tidak terduga pada Desember lalu. Dalam sebuah obrolan santai dengan Pasiter Kodim 0604/Karawang, Kapten Inf Kihajar, Memed memberanikan diri mempresentasikan konsep budidaya bebek Peking yang ingin ia kembangkan.

Tak disangka, gagasannya mendapat respons positif. Pihak TNI melalui Kodim 0604/Karawang membuka pintu bagi Memed untuk memulai dari nol, tanpa melihat latar belakang masa lalunya.

Kepercayaan itu menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya.

Hanya dalam waktu satu bulan, kandang budidaya berhasil dibangun. Dari situ, perjalanan baru pun dimulai dengan 800 ekor bibit bebek Peking sebagai langkah awal.

Seiring waktu, jumlah ternak berkembang pesat hingga mencapai 2.400 ekor. Dengan pengelolaan yang disiplin dan berbasis ilmu yang dimilikinya, Memed mampu membuktikan kapasitasnya.

Hasilnya pun tidak main-main. Dalam tiga tahap panen, ia mencatatkan capaian yang signifikan.

Pada panen pertama, sebanyak 800 ekor bebek menghasilkan 16 kuintal. Panen berikutnya menyumbang 8 kuintal. Sementara pada tahap terakhir, produksi melonjak hingga lebih dari 1 ton 7 kilogram.

Capaian tersebut tidak hanya menjadi bukti keberhasilan program, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan hidup Memed.

Kini, dampak dari kerja kerasnya mulai terasa di rumah. Ekonomi keluarga yang sebelumnya terpuruk perlahan kembali stabil. Istri dan ketiga anaknya kini bisa menjalani kehidupan dengan lebih layak dan tenang.

Bagi Memed, bebek Peking bukan sekadar komoditas ternak. Ia menyebutnya sebagai “jalan hidup” yang membawanya keluar dari masa lalu yang kelam.

Menurutnya, potensi pasar bebek Peking yang luas menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha ini.

“Permintaan di masyarakat sangat tinggi. Perputarannya cepat, sehingga peluangnya besar untuk dikembangkan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar keberhasilan ekonomi, kisah Memed juga menjadi cerminan penting tentang arti kesempatan kedua.

Di tengah stigma yang kerap melekat pada mantan narapidana, ia membuktikan bahwa setiap orang memiliki peluang untuk berubah dan bangkit.

Melalui program Kompi Produksi Ketahanan Pangan, Kodim 0604/Karawang menunjukkan peran strategisnya, tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga dalam membangun kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Pendekatan humanis yang dilakukan, dengan membuka ruang bagi warga binaan untuk berkembang, menjadi kunci dalam menciptakan perubahan nyata.

Memed pun tidak lupa berbagi pesan bagi mereka yang memiliki latar belakang serupa dengannya.

“Jangan pernah merasa diri kita tidak berguna. Jangan anggap diri kita sampah. Setiap orang punya rezekinya masing-masing. Yang penting mau berusaha dan membuktikan bahwa kita bisa hidup lebih baik,” pesannya.

Kisah ini menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang, tetapi membutuhkan keberanian untuk memulai dan kepercayaan dari lingkungan sekitar.

Apa yang dialami Memed hari ini adalah hasil dari kombinasi antara tekad pribadi dan dukungan institusi yang memberikan kesempatan tanpa menghakimi masa lalu.

Lebih jauh, kisah ini juga memperlihatkan bahwa program ketahanan pangan dapat memiliki dampak multidimensi, tidak hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan kemanusiaan.

Di balik deretan kandang bebek yang kini ramai dengan aktivitas, tersimpan cerita tentang harapan yang kembali tumbuh.

Bagi Memed, setiap suara bebek di kandang bukan lagi sekadar rutinitas kerja, melainkan pengingat bahwa ia telah berhasil menjemput kembali cahaya dalam hidupnya. (Rohendi/Pojokjabar)