Pemanfaatan Limbah Organik Rumah Tangga Melalui Edukasi Bio Eco-Enzyme di Desa Gunungsari Kabupaten Cianjur

POJOKJABAR.com, Cianjur — Limbah dapur yang selama ini kerap berakhir dibakar atau dibuang begitu saja mulai diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat Desa Gunungsari, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur.


Melalui program edukasi dan pelatihan pembuatan Bio Eco-Enzyme, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKN-T Inovasi) IPB University mengajak masyarakat mengenal alternatif pengolahan sampah organik yang dapat diterapkan dari lingkungan rumah tangga.

Kegiatan ini menyasar ibu rumah tangga yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan limbah dapur.

Edukasi dilaksanakan secara partisipatif melalui penyampaian materi, demonstrasi, serta praktik pembuatan Bio Eco-Enzyme secara langsung.


Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan sampah organik, tetapi juga diperkenalkan pada tahapan pengolahan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada Bio Eco-Enzyme sebagai cairan hasil fermentasi bahan organik, seperti kulit buah dan sisa sayuran, dengan gula dan air.

Proses pembuatannya menggunakan perbandingan bahan 1:3:10, yaitu 100 gram gula, 300 gram limbah organik, dan 1 liter air.

Tahapan pembuatan meliputi persiapan bahan, pencampuran, proses fermentasi dalam kondisi tertutup dan teduh, hingga penyaringan hasil fermentasi.

Proses fermentasi membutuhkan waktu yang cukup panjang sebelum produk dapat dipanen, sehingga peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemantauan selama proses berlangsung.

Kegiatan bersama warga desa.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung, terutama ketika memasuki sesi diskusi dan praktik.

Peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai pemilihan bahan organik, takaran bahan, proses fermentasi, hingga pemanfaatan Bio Eco-Enzyme dalam kehidupan sehari-hari.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dalam pendekatan edukasi yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong peserta untuk mencoba menerapkan pengelolaan sampah organik secara mandiri.

Pemanfaatan limbah organik melalui Bio Eco-Enzyme juga sejalan dengan upaya memperpanjang nilai guna material rumah tangga dalam perspektif ekonomi sirkular.

Limbah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat diolah kembali menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam skala rumah tangga.

Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan Bio Eco-Enzyme untuk kebutuhan domestik serta sebagai salah satu produk pendukung pemeliharaan tanaman.

Kepala Desa Gunungsari – Cianjur.

Kepala Desa Gunungsari Ade Sadili, S.Pd.I.,M.Si., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program tersebut.

“Sampah menjadi permasalahan utama di Desa Gunungsari. Dengan kehadiran mahasiswa KKN-T IPB, terdapat program yang sangat bermanfaat bagi desa dan masyarakat, yaitu pengelolaan sampah menjadi pupuk cair. Kami berharap ke depan masyarakat dapat memahami pengelolaan sampah secara mandiri dan tidak lagi membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, keberlanjutan program juga menjadi perhatian Tim KKN-T Inovasi IPB University.

Peserta diarahkan untuk melanjutkan proses fermentasi secara mandiri di rumah dengan tetap memperhatikan komposisi bahan dan kondisi penyimpanan.

Pemantauan melalui grup komunikasi juga dapat dilakukan untuk membantu peserta berkonsultasi selama proses fermentasi berlangsung hingga tahap pemanenan.

Cairan Bio Eco-Enzyme.

Program edukasi Bio Eco-Enzyme tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan KKN-T Inovasi IPB University di Desa Gunungsari yang dilaksanakan pada 6 Juli–14 Agustus 2026.

Melalui edukasi dan praktik langsung, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melihat sampah organik bukan hanya sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan kembali.

Dengan demikian, pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dapat berkembang menjadi kebiasaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan di Desa Gunungsari.***