POJOKSATU.id, KARAWANG – Mudik ke kampung halaman menjadi momen yang selalu dinanti para perantau. Namun bagi Nunu Nugraha, Pegawai Negeri Sipil (PNS) asal Karawang yang bertugas di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), perjalanan pulang bukanlah hal yang mudah.
Demi bisa berkumpul dengan keluarga di Karawang, Nunu harus menempuh perjalanan panjang melintasi jalur darat dan laut dengan jarak ribuan kilometer.
Keterbatasan transportasi dan tingginya harga tiket pesawat membuat Nunu memilih jalur laut sebagai alternatif untuk pulang ke kampung halaman.
Menariknya, momen keberangkatan Nunu dari Sumba Barat berlangsung penuh kehangatan. Ia diantar oleh keluarga dan rekan-rekannya di lingkungan MIN Sumba Barat.
Suasana pelepasan bahkan terlihat seperti acara keberangkatan jemaah haji. Banyak kerabat dan teman yang datang untuk mengantar sekaligus mendoakan keselamatannya selama perjalanan.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur. Teman-teman dan keluarga besar di MIN Sumba Barat ikut senang saat saya akan mudik. Yang mengantar juga ramai sekali, sampai suasananya seperti pengantar jemaah haji,” kata Nunu sambil tersenyum.
Menurutnya, kebahagiaan tersebut muncul karena banyak orang memahami betapa panjang dan beratnya perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai ke Karawang.
“Mereka bisa membayangkan bagaimana perjalanan yang harus saya lalui dan bagaimana rasanya nanti saat bertemu kembali dengan keluarga di kampung halaman,” ujarnya.
Perjalanan mudik Nunu dimulai dari Sumba Barat menuju Sumba Timur melalui jalur darat. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar lima jam.
Setelah tiba di Sumba Timur, ia melanjutkan perjalanan menggunakan kapal laut menuju Pulau Jawa.
Nunu mengatakan, kondisi transportasi di wilayah tempatnya bertugas sangat berbeda dengan di Pulau Jawa yang memiliki banyak pilihan moda transportasi.
“Kalau di sini pilihannya terbatas. Untuk menuju Jawa hanya bisa menggunakan pesawat atau kapal laut. Sementara harga tiket pesawat saat ini sangat mahal, sehingga kami memilih naik kapal,” jelasnya.
Berdasarkan jadwal perjalanan, Nunu berangkat dari Pelabuhan Sumba Timur pada malam hari dan diperkirakan tiba di Pelabuhan Surabaya pada Senin, 22 Juni 2026.
Setelah sampai di Surabaya, perjalanan masih akan berlanjut menuju Karawang menggunakan transportasi darat.
“Dari Surabaya nanti saya lanjut naik kereta api atau bus menuju Karawang, tergantung situasi dan waktu kapal bersandar,” katanya.
Meski harus menghabiskan waktu berhari-hari di perjalanan, Nunu mengaku tetap semangat karena akan segera bertemu keluarga yang sudah lama tidak ditemui.
Baginya, rasa lelah selama perjalanan akan terbayar ketika bisa kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Kisah Nunu Nugraha menjadi gambaran perjuangan para perantau yang bekerja jauh dari daerah asalnya. Di balik panjangnya perjalanan dan berbagai keterbatasan yang dihadapi, ada kerinduan besar untuk pulang dan bertemu keluarga tercinta.
Bagi para perantau seperti Nunu, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga momen berharga yang penuh makna dan kebahagiaan. ***