Lurah Plawad: Calon Ketua RW yang Main Uang Siap-siap Dicoret

Lurah Plawad Nabiyil Anzal Diaswara menegaskan pemilihan Ketua RW 02 hingga RW 05 harus berlangsung transparan dan bebas politik uang menjelang pencoblosan 24 Mei 2026.

POJOKJABAR.com, KARAWANG – Atmosfer politik di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, mulai terasa memanas menjelang pemilihan Ketua RW serentak yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Mei 2026 mendatang.


Hari ini, Minggu 17 Mei 2026, panitia resmi menetapkan nama-nama calon Ketua RW untuk wilayah RW 02, RW 03, RW 04, dan RW 05. Penetapan tersebut menjadi tahapan awal yang krusial sebelum masyarakat menentukan pilihannya di bilik suara pekan depan.

Meningkatnya dinamika di tengah warga membuat pihak Kelurahan Plawad langsung mengambil langkah antisipatif. Kepala Kelurahan Plawad, Nabiyil Anzal Diaswara, menegaskan bahwa seluruh proses pemilihan harus berjalan secara transparan, damai, dan bebas dari praktik curang.

Menurut Nabiyil, pihak kelurahan tidak akan melakukan intervensi terhadap panitia yang telah dibentuk masyarakat, yakni Tim 9 dan Tim 11. Namun demikian, pengawasan tetap dilakukan agar seluruh tahapan berjalan sesuai aturan.


“Netralitas kelurahan adalah harga mati. Kami memberikan kepercayaan penuh kepada panitia di lapangan. Karena itu, transparansi dalam segala bentuk proses harus dibuka lebar, baik kepada para calon maupun kepada masyarakat umum,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah kelurahan tidak ingin muncul polemik yang berpotensi memecah hubungan antarwarga hanya karena kontestasi tingkat lingkungan.

Tidak hanya menyoroti netralitas, pihak kelurahan juga mulai memetakan titik-titik yang dianggap rawan gesekan antarpendukung calon RW. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi konflik sosial yang bisa muncul menjelang hari pencoblosan.

Nabiyil mengatakan, pengamanan akan diperketat dengan melibatkan berbagai unsur kewilayahan seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).

“Untuk wilayah yang rawan, kami bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta LPM akan terus memantau situasi di lapangan secara berkala. Pengamanan kita tingkatkan dan sosialisasi damai terus kita gencarkan ke warga,” lanjutnya.

Selain pengamanan, isu yang menjadi perhatian serius adalah praktik politik uang atau money politics yang kerap muncul dalam pemilihan tingkat lingkungan. Kelurahan Plawad menegaskan tidak akan mentoleransi segala bentuk kecurangan demi memenangkan kontestasi.

Peringatan keras pun dilontarkan kepada seluruh kandidat Ketua RW agar tidak mencoba membeli suara warga dengan iming-iming uang maupun bentuk pemberian lainnya.

“Apabila ditemukan bukti politik uang atau kecurangan, panitia pemilihan berhak mendiskualifikasi calon yang terbukti melanggar saat itu juga. Untuk teknis lebih lanjut, segala pelanggaran tetap akan kita musyawarahkan,” ujar Nabiyil.

Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian masyarakat karena menunjukkan keseriusan panitia dan pemerintah kelurahan dalam menjaga integritas demokrasi di tingkat akar rumput.

Bagi warga Plawad, pemilihan Ketua RW bukan sekadar pergantian kepemimpinan lingkungan. Sosok RW dianggap memiliki peran penting dalam pelayanan administrasi, penyelesaian persoalan warga, hingga menjaga kondusivitas sosial di lingkungan masing-masing.

Karena itu, proses pemilihan selalu menjadi momentum yang cukup menyita perhatian masyarakat. Apalagi tahun ini empat wilayah RW melaksanakan pemilihan secara bersamaan.

Situasi tersebut membuat tensi politik lokal mulai terasa di sejumlah titik. Dukungan antarwarga terhadap calon masing-masing mulai terlihat, baik melalui komunikasi langsung maupun aktivitas sosialisasi di lingkungan sekitar.

Meski demikian, pemerintah kelurahan berharap seluruh masyarakat tetap menjaga persaudaraan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik.

Sebagai langkah antisipasi terakhir, Kelurahan Plawad bahkan telah menyiapkan skenario penghentian sementara pemilihan apabila situasi di lapangan dianggap tidak kondusif.

“Jika situasi memanas, langkah cepat kami adalah menghentikan sementara pemilihan untuk mendinginkan suasana. Kami akan langsung berkoordinasi dengan pembina, LPM, tokoh masyarakat, dan perwakilan warga untuk mediasi. Hal ini dilakukan demi menjaga keamanan warga dan memastikan demokrasi tetap berjalan damai,” tutup Nabiyil.

Dengan pengawasan ketat dan komitmen menjaga netralitas, masyarakat kini menanti bagaimana jalannya pemilihan Ketua RW di Kelurahan Plawad pada 24 Mei mendatang. Warga berharap pesta demokrasi tingkat lingkungan tersebut dapat melahirkan pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan dan menjaga kekompakan masyarakat. (Rohendi/Pojokjabar)