Sidak ke PT ABC Heinz Karawang, Dansatgas Citarum Soroti Praktik Buang Limbah Setengah Olah

Dansatgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno saat meninjau langsung pengelolaan limbah di PT ABC Heinz Indonesia, Karawang.

POJOKJABAR.com, KARAWANG – Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Citarum Harum, Kolonel Inf Yanto Kusno, menegaskan pentingnya integritas sektor industri dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya Sungai Citarum yang selama ini menjadi fokus program pemulihan nasional.


Penegasan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke PT ABC Heinz Indonesia di Karawang, dalam rangka meninjau langsung sistem pengelolaan limbah perusahaan serta memastikan kepatuhan terhadap standar lingkungan yang berlaku.

Dalam kunjungannya, Kolonel Yanto menekankan bahwa upaya pemulihan Sungai Citarum tidak hanya bergantung pada pemerintah dan aparat, tetapi juga membutuhkan komitmen jujur dari pelaku industri.

Menurutnya, tekanan ekonomi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban pengelolaan limbah, apalagi hingga merusak lingkungan yang berdampak jangka panjang.


“Persaingan industri memang ketat, tetapi integritas terhadap lingkungan tidak boleh ditawar. Jangan sampai kita memperbaiki ekonomi dengan cara mengorbankan masa depan generasi mendatang,” tegasnya.

Dalam paparannya, Kolonel Yanto juga merefleksikan perjalanan panjang pengawasan Sungai Citarum sejak tahun 2017, saat program Citarum Harum digencarkan di bawah kepemimpinan almarhum Letjen TNI (Purn) Doni Monardo.

Ia mengungkapkan bahwa berbagai tantangan sempat dihadapi, termasuk dinamika kebijakan anggaran yang berdampak langsung pada operasional di lapangan.

Salah satu momen krusial terjadi pada tahun 2025, ketika terjadi penyesuaian anggaran melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Kondisi tersebut menyebabkan anggaran operasional sempat dihentikan sejak Februari 2025.

“Kami sempat berada dalam situasi di mana anggaran di-nol-kan, namun anggota tetap berdinas sebagai bentuk tanggung jawab kepada negara,” ungkapnya.

Dampak dari keterbatasan anggaran tersebut cukup signifikan. Pengawasan di lapangan menjadi kurang optimal, yang berimbas pada penurunan kualitas air Sungai Citarum hingga mendekati kondisi tahun 2018.

Dalam kesempatan itu, Kolonel Yanto juga menyoroti praktik ilegal yang masih dilakukan oleh oknum industri dalam mengelola limbah.

Ia menyebut istilah “Spanyol” atau “Separuh Nyolong” untuk menggambarkan modus di mana perusahaan hanya mengolah sebagian limbah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sementara sisanya dibuang langsung ke sungai tanpa proses yang sesuai.

“Ada perusahaan yang memotong proses IPAL hingga 50 persen demi menekan biaya operasional. Ini jelas pelanggaran serius dan bentuk pengkhianatan terhadap lingkungan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa praktik kucing-kucingan antara pelaku industri dan petugas pengawas kini semakin terbuka. Salah satu modus yang ditemukan adalah adanya saluran pembuangan limbah atau outfall yang sengaja ditutup dengan beton untuk menghindari inspeksi.

Menanggapi kondisi tersebut, Satgas Citarum Harum bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menyusun langkah strategis untuk tahun 2026.

Terdapat tiga prioritas utama dalam rencana aksi yang akan dijalankan, yakni penertiban industri melalui inspeksi mendadak (sidak), penataan keramba jaring apung (KJA), serta penanganan sampah permukaan yang kembali menjadi sorotan di wilayah Bandung.

Dalam kunjungan ke PT ABC Heinz Indonesia, Dansatgas juga melakukan pengecekan langsung terhadap sampel air limbah serta parameter ambang batas yang dihasilkan perusahaan.

Ia memastikan bahwa penilaian dilakukan secara objektif tanpa pandang bulu, baik terhadap perusahaan yang patuh maupun yang melanggar.

“Kami akan sampaikan secara terbuka kepada publik jika ada perusahaan yang memiliki pengelolaan limbah yang baik. Itu bisa menjadi contoh atau benchmark bagi industri lain,” jelasnya.

Pendekatan transparansi ini diharapkan mampu mendorong persaingan sehat antar pelaku industri, tidak hanya dalam aspek bisnis tetapi juga dalam tanggung jawab terhadap lingkungan.

Dengan pengawasan ketat yang terus dilakukan, Satgas Citarum Harum optimistis kualitas air Sungai Citarum dapat kembali membaik. Sebelumnya, indeks kualitas air sempat menyentuh angka 51, yang menunjukkan kondisi yang masih perlu perhatian serius.

Upaya pemulihan Sungai Citarum sendiri menjadi program strategis nasional karena sungai ini memiliki peran vital bagi kehidupan jutaan masyarakat di Jawa Barat, baik sebagai sumber air, irigasi, hingga kebutuhan industri.

Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, aparat, pelaku industri, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem Sungai Citarum.

Kolonel Yanto pun menutup kunjungannya dengan pesan tegas kepada seluruh pelaku industri agar tidak bermain-main dengan aturan lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga akan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Ini bukan hanya soal hari ini, tapi soal masa depan anak cucu kita. Jangan korbankan lingkungan hanya demi keuntungan sesaat,” pungkasnya. (Rohendi/Pojoksatu)