
JABAR POJOKSATU.id, BANDUNG – Tradisi budaya Sunda kembali mewarnai awal tahun 2026 di Jawa Barat melalui pelaksanaan Tepang Taun Munggaran yang digelar di Bale Pakuan, Kota Bandung, Jumat 09 Januari.
Kegiatan ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa bersama dalam menyambut tahun baru, agar tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.
Acara tersebut dihadiri Gubernur Jawa Barat beserta keluarga, jajaran tokoh masyarakat, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai unsur.
Kehadiran para pemangku kepentingan menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya daerah.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Maula Akbar Mulyadi Putra, S.I.Pol, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menilai Tepang Taun Munggaran bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat Jawa Barat.
“Tradisi seperti Tepang Taun Munggaran ini memiliki nilai filosofis yang kuat. Ini bukan hanya tentang menyambut tahun baru, tetapi juga refleksi dan harapan agar Jawa Barat ke depan semakin harmonis dan berkarakter,” ujar Maula Akbar, yang biasa disapa Aa Ula, kepada pojoksatu.id, Jum’at (09/01).
Prosesi adat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan. Berbagai simbol budaya Sunda ditampilkan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Nilai kebersamaan dan silaturahmi menjadi pesan utama yang terasa sepanjang acara, sehingga tidak terasa menjenuhkan.
Menurut Aa Ula, penyelenggaraan kegiatan budaya di Bale Pakuan memiliki makna strategis. Selain sebagai pusat pemerintahan, Bale Pakuan juga menjadi ruang simbolik yang mempertemukan kepemimpinan daerah dengan akar budaya masyarakat Jawa Barat.
Ia menambahkan, pelestarian budaya harus terus diperkuat, terutama dengan melibatkan generasi muda agar tradisi tidak terputus oleh perkembangan zaman.
“Kita ingin budaya Sunda tetap hidup, tidak hanya dikenang, tetapi juga dipahami dan dijalankan oleh generasi selanjutnya,” pungkas anak sulung Gubernur Jabar ini, mengakhiri pembicaraan.***