POJOKJABAR.com, Indramayu – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Integrated Terminal (IT) Balongan bersama BPBD Kabupaten Indramayu menggelar kegiatan Kajian Risiko Bencana bertajuk Pelajar Tangguh, Kembangkan Sekolah Tanggap dan Ceria (PANAH KESATRIA).
Acara yang berlangsung di SMPN 1 Balongan pada Rabu (10/9) itu menjadi upaya membangun kesadaran dan kesiapsiagaan bencana sejak dini di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pertamina Cerdas Sekolah (PETRA), sebuah inisiatif CSR yang berfokus pada peningkatan kapasitas siaga bencana, baik di ring satu maupun wilayah sekitar operasional perusahaan.
Tujuannya, menciptakan sekolah yang aman, menumbuhkan budaya sadar bencana, serta memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Sebanyak 67 peserta terlibat, terdiri dari 30 siswa kelas 3, 10 guru, 14 anggota ekstrakurikuler, 4 personel BPBD, serta perwakilan IT Balongan.
Hadir pula Kepala SMPN 1 Balongan Agus Sugianto, Sekretaris BPBD Indramayu Asep Afandy Djanwari, dan Supervisor I HSSE Operation IT Balongan Rahma Laili.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan potensi ancaman bencana di Balongan, dilanjutkan Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu oleh Ismail dan tim BPBD.
Dalam forum itu, siswa dan guru berbagi pengalaman serta menyusun langkah mitigasi.
Antusiasme tinggi terlihat saat para siswa menyampaikan gagasan mereka terkait penanggulangan bencana.
Dari kegiatan ini diharapkan lahir peta risiko, titik evakuasi, hingga rambu-rambu yang mudah dipahami warga sekolah.
Lebih jauh, PANAH KESATRIA juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program Asta Cita Pemerintah, khususnya peningkatan kualitas pendidikan dan ketahanan bencana.
Sekretaris BPBD Indramayu, Asep Afandy Djanwari, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini.
“Kesiapsiagaan bencana harus dimulai sejak dini dan melibatkan semua pihak, termasuk sekolah. Sebagai tempat belajar dan tumbuhnya generasi penerus, sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman. Kolaborasi dengan BPBD adalah langkah penting untuk membentuk budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan,” ujarnya.
“Dengan memahami ancaman, kerentanan, dan kapasitas, kita bisa menyusun langkah yang lebih tepat sasaran. Karena bencana itu ada tiga dan dapat terjadi kapan saja, meliputi bencana alam, non-alam, dan sosial. Kehadiran BPBD di sini adalah wujud dukungan kami untuk memastikan bahwa sekolah sebagai pusat kegiatan belajar juga siap menghadapi potensi bencana. Kerjasama ini harus terus berlanjut untuk memastikan generasi emas Indonesia 2045 dapat terwujud,” sambungnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RJBB, Susanto August Satria, menegaskan komitmen perusahaan.
“Melalui program PANAH KESATRIA, kami ingin memastikan bahwa sekolah di ring satu memiliki kapasitas tangguh bencana. Kajian risiko ini menjadi dasar yang sangat penting sebelum kita berbicara tentang simulasi atau penanganan darurat. Dengan kolaborasi yang kuat antara sekolah, BPBD, dan Pertamina, kita bisa memastikan kesiapsiagaan ini tidak hanya berhenti di tataran wacana, tapi juga diwujudkan dalam aksi yang nyata,” katanya.
Program PETRA sendiri menjadi wujud nyata kepedulian Pertamina dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni pendidikan inklusif, berkualitas, dan merata.
Tak hanya memperkuat kapasitas pelajar, inisiatif ini juga menjadi investasi sosial untuk membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.