Prihatin Gempuran K-Pop, Ponpes Baitul Burhan Karawang Gelar Festival Hadroh Nusantara

Puluhan tim hadroh tampil dalam Festival Hadroh Nusantara di Ponpes Baitul Burhan, Tempuran, Karawang, Minggu (26/4/2026)

POJOKJABAR.com, KARAWANG – Di tengah derasnya arus budaya asing yang kian masif menyasar generasi muda, Pondok Pesantren Baitul Burhan di Lemahduhur, Kecamatan Tempuran, Karawang, mengambil langkah nyata untuk menjaga identitas budaya bangsa. Melalui gelaran Festival Hadroh Nusantara, Minggu (26/4/2026), pesantren ini berupaya menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap seni religi khas nusantara.


Festival yang diikuti puluhan tim hadroh dari berbagai daerah ini bukan sekadar ajang perlombaan seni. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi gerakan budaya yang membawa misi besar, yakni menjaga warisan tradisi Islam nusantara agar tetap hidup di tengah gempuran budaya populer asing seperti K-Pop yang kini begitu kuat memengaruhi anak muda.

Pondok Pesantren Baitul Burhan menilai, derasnya arus budaya global tidak bisa dihindari, namun harus diimbangi dengan penguatan identitas lokal agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya dan nilai spiritualnya.

Panitia pelaksana Festival Hadroh Nusantara, Muhammad Edi Abdillah, S.Kom.I., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar nyata untuk membentengi generasi muda dari derasnya pengaruh budaya luar yang dinilai semakin mendominasi ruang sosial anak muda.


“Intinya, kegiatan ini adalah upaya melestarikan budaya nusantara, khususnya bagi generasi muda di tengah gempuran budaya asing seperti K-Pop. Selain itu, ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi para pecinta seni dan pecinta shalawat,” ujar Muhammad Edi Abdillah saat dikonfirmasi, Minggu (26/4/2026).

Menurut Edi, seni hadroh bukan hanya soal musik dan pertunjukan, tetapi juga sarana dakwah, ruang ekspresi religius, sekaligus media pendidikan karakter yang sarat nilai adab, kebersamaan, dan spiritualitas.

Karena itu, Festival Hadroh Nusantara dirancang bukan hanya sebagai panggung kompetisi, melainkan juga ruang pembinaan bagi generasi muda agar mencintai seni Islam tradisional yang telah lama menjadi bagian dari budaya nusantara.

Kualitas festival ini pun tidak digelar secara sembarangan. Panitia menghadirkan sistem penilaian profesional dengan melibatkan tim juri kompeten yang memahami standar seni hadroh secara nasional.

Muhammad Edi menjelaskan, seluruh mekanisme penjurian dalam festival tersebut mengacu pada standar LASQI Nusantara Jaya, yakni pedoman resmi yang digunakan secara nasional dalam penilaian seni qasidah dan hadroh.

Standar tersebut diterapkan agar kualitas peserta tidak hanya dinilai dari semangat tampil, tetapi juga dari aspek teknis, musikalitas, hingga adab dalam penampilan.

Ia menjelaskan, proses penjurian dalam Festival Hadroh Nusantara mencakup tiga aspek utama. Pertama, kategori vokal yang menilai teknik bernyanyi, kemurnian suara, dan harmonisasi koor antaranggota.

Kedua, kategori instrumen yang menitikberatkan pada kemahiran memainkan alat musik, ketepatan tempo, serta kualitas aransemen yang dibawakan peserta.

Sementara kategori ketiga adalah penampilan, yang mencakup kualitas aksi panggung, formasi, keselarasan gerak, kesesuaian kostum, hingga adab peserta saat tampil di atas panggung.

“Kategori instrumen menitikberatkan pada kemahiran bermain, ketepatan tempo, dan aransemen musik. Sementara itu, kategori penampilan mengukur kualitas aksi panggung, formasi, hingga kesesuaian kostum dan adab peserta,” jelasnya.

Menurut Edi, standar penilaian yang ketat itu penting agar seni hadroh tidak dipandang sebagai kesenian seremonial semata, tetapi benar-benar dihargai sebagai seni pertunjukan religius yang memiliki kualitas dan nilai tinggi.

Antusiasme peserta dan masyarakat yang hadir menjadi bukti bahwa seni hadroh masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat. Sejak pagi, area pesantren dipadati peserta, pendamping, dan penonton yang datang untuk menyaksikan penampilan demi penampilan dari para grup hadroh.

Suasana festival berlangsung meriah, namun tetap sarat nuansa religius. Tabuhan rebana, lantunan shalawat, dan kekompakan para peserta menciptakan atmosfer yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyejukkan.

Bagi Ponpes Baitul Burhan, festival ini menjadi penegasan bahwa tradisi Islam nusantara masih hidup dan tetap relevan di tengah era digital yang serba cepat.

Di tengah dominasi budaya populer global yang terus membentuk selera generasi muda, seni hadroh diharapkan bisa menjadi antitesis yang kuat—bukan untuk menolak modernitas, melainkan menghadirkan alternatif budaya yang tetap membumi, religius, dan berkarakter.

Melihat respons positif dari peserta dan masyarakat, panitia membuka peluang menjadikan Festival Hadroh Nusantara sebagai agenda rutin tahunan.

“Kami akan melakukan evaluasi dan melihat bagaimana respons masyarakat lebih lanjut. Sangat memungkinkan, jika hasilnya terus positif, festival ini akan menjadi agenda rutin tahunan di Ponpes Baitul Burhan,” pungkasnya.

Melalui festival ini, Ponpes Baitul Burhan membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional dan religius masih memiliki tempat di hati masyarakat. Lebih dari sekadar perlombaan, Festival Hadroh Nusantara menjadi pengingat bahwa menjaga budaya bukan hanya soal melestarikan masa lalu, tetapi juga menyiapkan identitas masa depan generasi muda Indonesia. (Rohendi/Pojokjabar)