BOGOR, POJOKJABAR.com – Ketua Umum Forum Wartawan Jaya (FWJ) Indonesia, Mustofa Hadi Karya atau yang akrab disapa Opan, menyoroti dugaan intimidasi dan pemerasan terhadap Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Korban mengaku dimintai uang hingga Rp 60 juta oleh tiga orang yang disebut mengaku sebagai wartawan.
Dalam keterangan resmi FWJ Indonesia yang disampaikan pada Rabu (21/10/2026), korban bernama Muhamad Mahpud mengaku mengalami tekanan terkait foto dirinya bersama seorang relawan perempuan SPPG. Foto tersebut disebut-sebut akan diberitakan oleh sejumlah media apabila permintaan uang tidak dipenuhi.
Peristiwa itu disebut terjadi pada Senin (12/10/2026). Berdasarkan keterangan FWJ Indonesia, Mahpud menyepakati pertemuan dengan tiga orang berinisial Y, W, dan DS di sebuah kafe di Kota Bogor. Namun, hanya dua orang, yakni W dan DS, yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Mahpud mengaku dimintai uang hingga Rp 60 juta. Karena merasa terdesak, ia mengaku hanya membawa uang Rp 10 juta dan menyerahkannya kepada kedua orang tersebut.
Situasi kemudian diketahui oleh sejumlah rekan dari pihak SPPG. Berdasarkan keterangan dalam rilis FWJ Indonesia, W dan DS selanjutnya dibawa bersama pihak SPPG ke Polres Bogor untuk penanganan lebih lanjut.
Ketua Umum FWJ Indonesia, Mustofa Hadi Karya alias Opan, mengatakan pihaknya telah menerima keterangan korban serta bukti yang diklaim berkaitan dengan dugaan ancaman dan permintaan uang tersebut.
“Kami sudah mendapatkan bukti-bukti adanya rekaman ancaman dan permintaan sejumlah uang senilai Rp 50 juta sampai Rp 60 juta dari korban,” kata Opan dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Opan menyayangkan dugaan tindakan tersebut karena dinilai dapat mencoreng nama baik profesi jurnalis. Ia meminta persoalan itu diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Menurut keterangan korban kepada FWJ Indonesia, persoalan bermula dari foto swafoto dirinya bersama seorang relawan perempuan yang bekerja di SPPG Dramaga. Mahpud membantah memiliki hubungan khusus dengan perempuan tersebut.
Ia menjelaskan foto itu diambil saat para pegawai dan relawan makan bersama di sebuah rumah makan sebagai bentuk rasa syukur atas kesiapan dapur MBG untuk mulai berproduksi.
“Itu penggiringan opini mereka, seakan-akan saya ada hubungan lebih dengan wanita relawan SPPG saya. Padahal foto swafoto itu terjadi ketika para karyawan dan relawan makan bersama di salah satu rumah makan,” ujar Mahpud sebagaimana dikutip dalam rilis FWJ Indonesia.
Mahpud juga menyebut foto tersebut diambil sebelum perempuan yang bersangkutan menikah pada Januari 2026.
Dalam rilis tersebut, FWJ Indonesia menyebut foto itu diduga digunakan sebagai bahan tekanan kepada korban. Para pihak yang disebut terlibat diduga mengancam akan menaikkan pemberitaan di empat media apabila uang yang diminta tidak diberikan.
Meski demikian, tuduhan tersebut masih perlu diuji melalui proses hukum. Keterangan mengenai isi komunikasi, permintaan uang, serta peran masing-masing orang yang disebut dalam peristiwa ini perlu dikonfirmasi kepada pihak berwenang dan pihak-pihak terkait.
Sebelumnya, pemberitaan media Jabar Online juga menyoroti persoalan terpisah mengenai dugaan perilaku tidak pantas di lingkungan dapur SPPG Dramaga. Dalam pemberitaan tersebut, seorang pegawai yang meminta identitasnya dirahasiakan menyampaikan adanya keresahan di lingkungan kerja terkait interaksi antara Mahpud dan seorang relawan perempuan.
Mahpud, berdasarkan keterangan dalam rilis FWJ Indonesia, membantah memiliki hubungan khusus dengan relawan tersebut dan menyatakan foto yang dipersoalkan merupakan dokumentasi lama. (Ega Nugraha/Pojokjabar)
