Merput SMAN 3 Karawang Naik Level! Teater Tak Lagi Cuma Soal Panggung, Gen-Z Diajak Jadi Sineas

Foto : Ekspresi ceria anggota Teater Merah Putih SMAN 3 Karawang bersama pelatih dan pengurus. (Pojoksatu/Rohendi

POJOKJABAR.COM, KARAWANG — Regenerasi kepengurusan Teater Merah Putih (Merput) SMAN 3 Karawang di bawah kepemimpinan Wizwi Kirana Dewi mulai membawa gagasan baru dalam proses berkesenian. Salah satunya dengan memperluas pembelajaran dari dunia panggung menuju dunia sinema dan konten digital.


Pelatih Teater Merah Putih, Panji Mayza Perdana, S.Pd., mengatakan konsep tersebut menjadi salah satu gagasan yang ingin dikembangkan bersama kepengurusan baru. Menurutnya, perkembangan media digital harus bisa dimanfaatkan sebagai ruang belajar sekaligus berkarya bagi anggota Merput.

“Saya ingin Teater Merput bisa memanfaatkan media digital dengan baik dan menarik. Media sosial sekarang ibarat wajah dari sebuah komunitas. Dari sana orang bisa melihat siapa kita, apa yang kita kerjakan, dan karya seperti apa yang kita hasilkan,” ujar Panji.

Ia mengatakan, anggota Merput ke depan tidak hanya didorong untuk berkembang sebagai aktor di atas panggung, tetapi juga mengenal proses di balik layar, mulai dari menulis cerita, menyutradarai, mengambil gambar hingga melakukan editing.


“Saya mendorong anak-anak tidak hanya kreatif sebagai aktor di panggung, tetapi juga kreatif sebagai sineas. Tak masalah kalau kameranya hanya menggunakan gadget. Kita manfaatkan apa yang ada. Yang penting bagaimana ide dan ceritanya bisa dikemas dengan menarik,” katanya.

Panji menuturkan, selama 12 tahun melatih Teater Merah Putih, dirinya melihat setiap anggota memiliki minat dan kemampuan yang berbeda. Menurutnya, proses di Merput seharusnya menjadi ruang bagi setiap anak untuk menemukan passion masing-masing.

“Tidak semua anak harus menjadi aktor. Ada yang ternyata punya kemampuan menulis, menyutradarai, mengurus produksi, tata artistik, musik, dokumentasi atau justru lebih tertarik berada di belakang kamera. Selama proses belajar, mereka akan menemukan sendiri apa yang menjadi passion-nya,” ujarnya.

Karena itu, Panji ingin media sosial Merput tidak hanya menjadi tempat mengunggah dokumentasi kegiatan, tetapi juga menjadi wadah bagi anggota untuk menunjukkan kreativitas mereka.

“Instagram Merput ke depan saya ingin menjadi ruang berkarya. Anak-anak bisa membuat konten yang menarik, edukatif dan tetap punya identitas Merput. Jadi apa yang mereka pelajari tidak berhenti di panggung, tetapi bisa mereka bawa ke ruang digital,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Teater Merah Putih yang baru, Wizwi Kirana Dewi, menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai konsep berkesenian yang memadukan teater dengan dunia digital sesuai dengan karakter generasi saat ini.

“Kami ingin Merput tidak hanya dikenal dari pementasan, tetapi juga dari karya-karya yang hadir di media sosial. Teman-teman juga bisa mencoba banyak hal, tidak hanya akting, tetapi menulis, membuat konsep, mengambil gambar sampai editing,” kata Wizwi.

Menurut Wizwi, kepengurusan baru akan berupaya membuka lebih banyak kesempatan bagi anggota untuk bereksplorasi dan menemukan bidang yang mereka sukai.

 

“Yang pasti kami ingin berkarya bersama. Tidak harus selalu dengan alat yang lengkap. Selama ada ide dan kemauan untuk belajar, kami bisa memanfaatkan apa yang ada,” ujarnya.

Gagasan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi Teater Merah Putih untuk tetap mempertahankan tradisi berkesenian sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga Merput tidak hanya menjadi tempat belajar teater, tetapi juga ruang tumbuh bagi kreator-kreator muda.(Red)