Skip to content
Pojok Jabar
Rabu, 7 Oktober 2026

Mesin Pirolisis Ubah Sampah Plastik Bernilai Rendah Jadi Bahan Bakar

, · 19:53 WIB ·
Foto: Teknologi mesin pirolisis diperlihatkan dalam kegiatan sosialisasi pengolahan sampah di Kecamatan Klari, Karawang.(Pojoksatu/Rohendi)

POJOKJABAR.Com, KARAWANG – Sampah plastik yang selama ini memiliki nilai jual rendah mulai dikembangkan menjadi sumber bahan bakar melalui teknologi pirolisis.

Advertisement

Direktur Teknik, Hadi Sarono, ST, menjelaskan mesin tersebut menggunakan proses thermal untuk mengolah sampah plastik menjadi produk berupa bahan bakar dan energi.

“Prosesnya dimulai dari reaktor. Sampah plastik yang digunakan bisa berasal dari jenis PP, PE, HDPE, LDPE, termasuk plastik kresek dan kemasan makanan ringan,” ujar Hadi.

Menurutnya, teknologi tersebut diarahkan untuk mengolah sampah plastik yang selama ini kurang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Advertisement

Dalam kapasitas pengolahan sekitar 50 kilogram sampah plastik, mesin tersebut diklaim mampu menghasilkan sekitar 40 hingga 45 liter produk bahan bakar, tergantung jenis dan kondisi bahan baku.

“Sekitar 80 sampai 90 persen sampah plastik bisa diubah menjadi bahan bakar, seperti solar dan bensin, serta sebagian berupa gas metana,” katanya.

Namun, Hadi menyebut gas yang dihasilkan belum dimanfaatkan karena tekanan yang dihasilkan masih relatif rendah.

Ia menjelaskan, unit berkapasitas 50 kilogram tersebut juga ditujukan untuk komunitas, bank sampah hingga pengepul.

Dengan begitu, pengelolaan sampah plastik tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga dapat menghasilkan produk yang berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Targetnya komunitas-komunitas yang bersinggungan langsung dengan bank sampah atau pengepul. Output-nya nanti bisa diarahkan untuk kebutuhan seperti nelayan, petani maupun sektor lainnya,” jelasnya.

Hadi menambahkan, produk bahan bakar yang dihasilkan telah melalui sejumlah uji coba.

Untuk produk bensin, misalnya, pihaknya mengklaim telah melakukan pengujian pada kendaraan seperti Toyota Fortuner dan Innova, dengan hasil pengujian terakhir disebut memiliki angka oktan sekitar 98.

Meski demikian, ia mengakui teknologi tersebut masih memiliki sejumlah keterbatasan, salah satunya berkaitan dengan waktu pengisian bahan baku atau loading.

“Targetnya loading sekitar satu sampai satu setengah jam untuk 50 kilogram. Tapi dalam praktiknya bisa molor hingga tiga jam,” ungkapnya.

Pengembangan teknologi tersebut, kata Hadi, juga telah diperkenalkan kepada sejumlah pihak.

Kerja sama maupun komunikasi disebut telah dilakukan di sejumlah wilayah Jawa Tengah, termasuk Semarang, Kendal dan Banjarnegara.

Sementara di Jawa Barat, pihaknya mengaku telah berkomunikasi dengan sejumlah instansi terkait lingkungan hidup, termasuk di Kabupaten Bekasi dan Karawang.

Selain itu, dari sisi teknis, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan Pusterad TNI Angkatan Darat. Teknologi tersebut rencananya turut diperkenalkan dalam kegiatan pameran yang berkaitan dengan HUT TNI ke 81.

Hadi berharap teknologi pengolahan sampah plastik tersebut dapat menjadi salah satu alternatif dalam menangani persoalan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

“Keuntungan dari pengolahan sampah plastik ini sangat besar, terutama karena sampah yang sebelumnya bernilai rendah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna,” pungkasnya.

Ditulis oleh Ega Nugraha