Ini Hambatan Proses Vaksinasi Covid-19

Ilustrasi vaksin Covid-19.

Ilustrasi vaksin Covid-19.


POJOKJABAR.com– Proses vaksinasi mengalami hambatan lantaran persebaran hoaks mengenai vaksin dan Covid-19.

Pemerintah dan masyarakat perlu berkolaborasi untuk memerangi hoaks agar Indonesia segera keluar dari pandemi.

Sekretaris Eksekutif Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Julitasari Sundoro mengatakan, di Indonesia, gerakan antivaksin menguat berdasar aliran kepercayaan.

Penolakan terhadap vaksin di tanah air bahkan pernah dipublikasikan dalam jurnal bergengsi The Lancet dan Elsevier.

”Bagi masyarakat menengah ke bawah mudah mempercayai (hoaks) apalagi kalau berita disampaikan tokoh masyarakat,” ujar Julitasari Sundoro dalam keterangannya, Sabtu (19/12).

Menurut dia, sejumlah isu telah bertebaran. Salah satunya mengatakan bahwa vaksin berbahaya.

Ada juga klaim dokter ahli gizi menyatakan jika kuman disuntikkan kepada anak dengan daya tahan tubuh menurun, kuman akan menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh resipien.

”Ini adalah hal-hal yang keliru. Sebenarnya, vaksin yang akan kita pakai itu sudah inactive,” kata Julitasari Sundoro.

Klaim lain juga menyebutkan menangani Covid-19 tidak perlu vaksin lantaran hanya menghambur-hamburkan anggaran. Uang lebih baik dipakai untuk pengadaan tes PCR.

Faktanya, PCR dibutuhkan untuk skrining penemuan kasus baru. Sedangkan, vaksin dipakai untuk pencegahan.

Hoaks lain seputar vaksin Covid-19 yakni tudingan bahwa uji klinis di Bandung tidak dapat dipercaya lantaran jumlahnya terlalu sedikit, hanya 1.620 orang.

Faktanya, uji klinis vaksin dilakukan secara multisenter di beberapa negara lain dengan jumlah total 30.490 orang.

Julitasari mengatakan, ada pula argumen yang dituduhkan gerakan antivaksin terbukti palsu.

Misalnya soal tudingan vaksin MMR menyebabkan autisme. Faktanya, data yang dipublikasikan di majalah Lancet tidak benar.

Majalah itu lantas menarik artikelnya pada 6 Februari 2010.

Selain itu, banyak riset membuktikan tuduhan vaksin MMR menyebabkan autisme tidak terbukti.

”Sebuah berita televisi 3 Desember 2020 menyebutkan ada pasien mengeluhkan pasca imunisasi di Tulangbawang. Padahal, vaksin baru tiba tadi malam,” ucap Julitasari Sundoro.

Bahkan, ada juga yang mengatakan bahwa sistem imun bayi tidak bisa mengatasi berbagai vaksin.

Faktanya, justru makin kecil anak makin baik diberikan imunisasi.

Vaksin hepatitis B misalnya diberikan saat masih bayi. Begitu pula vaksin polio diberikan saat bayi masih di rumah sakit.

Vaksin akan memberikan respons imun terhadap antigen yang masuk.

Dia meminta masyarakat tidak mudah terpancing isu hoaks seputar vaksin.

Julitasari mengajak masyarakat mendapatkan informasi yang tepat melalui sumber terpercaya dan kredibel.

Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengatakan, selama pandemi mencatat jumlah hoaks Covid-19 sangat masif.

Data Mafindo menunjukkan pada 2018, ditemukan 997 hoaks. Jumlah ini meningkat pada 2019 menjadi 1.221 hoaks seiring digelarnya pemilu.

Namun, pada 2020, hingga 16 November, Mafindo mencatat ada 2.024 hoaks beredar di masyarakat. Bahkan, pada Januari–November ditemukan ada 712 hoaks seputar Covid-19.

Kondisi itu menempatkan Indonesia sebagai rangking kelima dunia persebaran rumor, stigma, dan teori konspirasi seputar Covid-19.

”Ini berdampak serius pada terjadinya konflik sosial di masyarakat, ketidakpercayaan, dan intimidasi terhadap rumah sakit dan tenaga kesehatan, abai protokol kesehatan, dan lainnya. Ancaman hoaks Covid-19 karena ini suatu hal lebih spesifik lagi,” katanya.

“Kita menduga tingkat penerimaan hoaks vaksin akan dipengaruhi bagaimana mereka menerima hoaks tentang Covid-19,” kata Septiaji.

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds