10 Makam Tak Berahli Waris, Baru 1 Kompleks Makam Tokoh Tionghoa Terdaftar, Selebihnya?

Warga dari etnis Tionghoa saat mengunjungi makam Tan Sam Cay atau Tumenggung Arya Wicula, belum lama ini. FOTO:NOVRILA MAYANG PANGESTI/RADAR CIREBON

Warga dari etnis Tionghoa saat mengunjungi makam Tan Sam Cay atau Tumenggung Arya Wicula, belum lama ini. FOTO:NOVRILA MAYANG PANGESTI/RADAR CIREBON


POJOKCIREBON-Dari ke-10 makam tak berahli waris di Cirebon yang dikelola Wihara Dewi Welas Asih, baru satu kompleks makam tokoh Tionghoa yang terdaftar dan ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya yang dilindungi di Cirebon.

Kompleks makam tersebut merupakan makam Tan Sam Cay atau yang dikenal dengan Tumenggung Arya Wicula beserta empat makam pengikutnya Tan Tang Meng, Tan Yang Meng, Eyang Pati Geni dan Nyi Mas Krumsari.

Selebihnya, masih belum termasuk dalam situs cagar budaya oleh Kota Cirebon. Sehingga pemeliharaan yang dijamin pemerintah barulah komplek makam tokoh tionghoa Tumenggung Arya Wicula beserta keempat pengikutnya.

Menurut Iyan Siskarteja selaku Pemerhati Budaya Tionghoa sekaligus Pelaksana Perawatan Makam Tokoh Tionghoa Cirebon Wihara Dewi Welas Asih, kompleks makam Tan Sam Cay atau Tumenggung Arya Wicula yang merupakan tokoh Tionghoa yang dahulu menjabat sebagai bendahara dan keamanan Keraton Kasepuhan beserta keempat makam pengikutnya memang berada dalam naungan DKOKP karena termasuk situs cagar budaya.

Untuk pemeliharaan bahkan ditempatkan penjaga makam di lokasi kompleks makam tersebut. “Untuk yang Tumenggung Arya Wicula ini ada yang menunggunya atau penjaga guna pemeliharaan setiap harinya,” ungkapnya.

Diakui Iyan, belum diajukannya lima makam tokoh Tionghoa kepada dinas terkait atau Pemerintah Kota Cirebon guna dijadikan situs cagar budaya dikarenakan belum adanya cukup bukti fisik yang bisa diajukan kepada dinas terkait akan kebeneraan identitas makam Tionghoa tersebut.

Baca juga: 20 Tempat Wisata Cirebon yang Menarik Dikunjungi Libur Panjang Akhir Pekan

“Yang belum kita ajukan itu pengawal Putri Ong Tien atas nama Tung Jie Sam dan Lie Lian Moy yang ada di belakang Terminal Harjamukti. Kondisinya rata dengan tanah tapi belum bisa kita ajukan karena bukti fisik atau bukti otentiknya ini belum ada,” katanya.

Selama ini, lanjut Iyan,  pihaknya masih berupa mediasi roh yang empunya makam. “Jadi belum bisa kami ajukan bukti otentiknya,” tandasnya.

Sementara, makam yang disebut pendekar Tionghoa di Cirebon atas nama Tan Kwi Hong dan Sie Oen Lay sudah diajukan  kepada DKOKP untuk dijadikan situs bersejarah cagar budaya.

Namun karena kejelasan status dan bukti yang belum cukup kuat, maka kedua makam di Pamitran tersebut terpaksa belum bisa dijadikan situs cagar budaya dan kini masih dalam naungan dan pemeliharaan Wihara Dewi Welas Asih.

“Sudah kita ajukan, cuma karena identitasnya ini hanya sebagai warga biasa tapi dia ini bekas pendekar di masanya, sampai sekarang belum di-acc. Sedangkan yang di Kandang Perahu, makam China di tengah-tengah sawah masih akan kita terjemahkan lagi tulisan China mandarinnya itu untuk mengetahui siapa tokoh di dalamnya,” pungkasnya.

(myg/pojokjabar)

 

Loading...

loading...

Feeds