Kasus Pencabulan di Sukabumi, ‘New Emon‘ Cabuli 19 Anak Laki-laki

ilustrasi pencabulan

ilustrasi pencabulan


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Predator seks terhadap anak laki-laki dibawah umur kembali terjadi di Sukabumi. Terungkapnya kasus ini mengingatkan publik terhadap kasus serupa yang dilakukan Si Emon pada 2014 silam. Tapi kali ini, pelaku pencabulan berinisial FCR (22) menggunakan media sosial Facebook untuk menjerat korbannya.

Aksi bejat pelaku ini ternyata sudah dilakukan sejak 2019 silam. Tak tanggung-tanggung, korbanya pun mencapai kurang lebih 19 anak laki-laki yang usianya dibawah 15 tahun.

“Kasus ini terungkap dari adanya laporan salah satu orang tua yang anaknya diduga telah menjadi korban pencabulan pelaku. Saat lidik, ternyata korban bertambah jadi empat orang.

Setelah itu, tersangka mengakui jumlah korban sementara kurang lebih 19 anak laki-laki dibawah umur,” kata Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Rizka Fadhila kepada Radar Sukabumi (Group Pojoksatu.id), Senin (29/06/2020).

Pelaku mengenal korban dengan cara pertemanan melalui media sosial Facebook. Setelah berhasil meyakinkan korbannya dengan cara menawarkan ilmu kanuragan untuk jaga diri, kpelaku pun mulai melancarkan aksinya. Agar aksinya berjalan mulus, FCR mengancam korban dengan ditakut-takuti. Jika menolak permintaan bejat pelaku, korbannya akan menjadi gila dan diikuti oleh makhluk ghoib.

“Dari pengakuan tersangka, pelaku semuanya laki-laki usia dibawah 15 tahun,” jelasnya.

Setelah mendapat laporan tersebut, pelaku berhasil diamankan Polsek Kalapanunggal pada Sabtu (27/6) sekira pukul 23.30 WiB di kediamannya. Lalu pada Minggu (28/6) sekitar pukul 11.00 WIB, pelaku kemudian di bawa ke Markas Polres Sukabumi di Palabuhanratu untuk menjalani pemeriksaan lebih intensif. Hingga saat ini, jajaran Satreskrim Polres Sukabumi masih mendalami kasus tersebut untuk mengetahui kemungkinan adanya korban lain.

“Kemungkinan korbannya bisa bertambah, karena saat ini masih dilakukan penadalaman,” ucap Rizka.

Adapun upaya yang sudah dilakukan polisi diantaranya, olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), mengamankan pelaku, meminta teterangan saksi korban berikut orang tuanya, memberikan pengantar visum kepada korban dan mencari keterangan dari sejumlah saksi.

“Rencana tindak lanjutnya yakni, menelusuri korban lain sesuai pengakuan tersangka, mencari dan mengumpulkan alat bukti dan koordinasi dengan dinas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A),” ungkapnya.

Rizka menyebutkan, akibat perbuatannya tersangka dijerat Pasal 82 ayat 1, 4 Undang-undang (UU) nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapat Perpu Perubahan UU Perlindungan Anak.

“Ancamannya 15 tahun penjara ditambah 1/3 karena korban lebih dari satu orang,” tegas Rizka.

(RS/bam/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds