Miris, 230 KK di Desa Sindangresmi Sukabumi Tinggal di Rutilahu

Kondisi salah satu rumah warga di Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampangtengah yang memprihatinkan.

Kondisi salah satu rumah warga di Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampangtengah yang memprihatinkan.


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Permasalahan rumah tidak layak huni (Rutilahu) di Kabupaten Sukabumi seakan tak ada ujungnya. Pasalnya, hingga kini masih banyak warga yang tinggal di Rutilahu. Seperti yang terjadi di wilayah Desa Sindangresmi, Kecamatan Jampangtengah terdapat ratusan unit Rutilahu.

Meski pemerintah daearah Kabuapten Sukabumi setiap tahunnya menggelontorkan bantuan untuk rehab, namun tak menutupi kebutuhan yang ada. Kepala Desa Sindangresmi, Iyan Mardiyana mengatakan, berdasarkan hasil pendataan petugas Desa Sindangresmi ke lapangan, saat ini terdapat sekitar 230 unit rumah yang saat ini kondisinya memprihatinkan dan belum mendapat bantuan Rutilahu.

“Saya berharap mereka ini bisa diperhatikan pemerintah pusat maupun daerah,” jelas Iyan kepada Radar Sukabumi (Group Pojoksatu.id), Rabu (12/02/2020).

Lebih lanjut Iyan menjelaskan, ratusan Rutilahu tersebut tersebar ditujuh kedusunan. Yakni Kedusunan Neglasari, Bojongnangka, Gunungbatu, Kubang, Sampalan, Ciasahan dan Kedusunan Bantarjati.

“Hampir di semua kedusunan yang ada di Desa Sindangresmi, terdapat Rutilahunya,” bebernya.

Pihaknya mengaku, prihatin terkait masih banyak warganya yang tinggal di rumah panggung yang kondisinya nyaris ambruk.

“Mayoritas kondisi rumah mereka itu, berukuran 6 x 6 meter persegi dan terbuat dari anyaman bambu. Iya, selain gentingnya banyak yang bocor, juga kayu penyangganya sudah lapuk termakan usia. Sehingga, saat hujan deras seperti sekarang, air hujan dapat bebas masuk ke dalam ruangan rumahnya,” paparnya.

Pemerintah Desa Sindangresmi, sudah berulang kali mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah maupun pusat untuk program Rutilahu itu.

“Informasi hasil dari koordinasi kami dengan dinas terkait, katanya pada tahun ini, kami dapat bantuan sekitar tiga unit rumah, namun masih banyak rumah yang tak layak huni,” ujarnya.

Menurut dia, keadaan ini mengakibatkan kecemburuan sosial di lingkungan masyarakat karena merasa sama-sama punya hak untuk mendapatkan bantuan. Sedangkan bantuan yang ada sangat berbanding jauh dengan kebutuhan yang ada, di mana bantuan yang diperolehkan jumlahnya hanya tiga unit dalam per tahunnya. Sementara, Rutilahu di wilayah yang tengah dipimpinnya itu, berjumlah ratusan.

“Di desa ini penduduknya berada dalam ekonomi menengah, rata-rata pemilik RTLH berpenghasilan minim karena berprofesi sebagai kuli dan buruh tani,” pungkasnya.

(RS/Den/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds