Pembangunan Bioskop di Kawasan Heritage Kota Sukabumi Dikecam

Pemandangan di sekitar lokasi kawasan heritage di Jalan Bhayangkara, RT 3/5, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi yang direncanakan bakal dibangun gedung bioskop, mendapat kecaman.

Pemandangan di sekitar lokasi kawasan heritage di Jalan Bhayangkara, RT 3/5, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi yang direncanakan bakal dibangun gedung bioskop, mendapat kecaman.

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Rencana pembangunan bioskop di Jalan Bhayangkara, RT 3/5, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, nampaknya tak begitu disambut baik masyarakat khususnya para penggiat sejarah.

Pasalnya, bangunan yang akan berdiri tersebut, akan dibangun di kawasan yang memiliki nilai sejarah. Salah satu kritikan tersebut datang dari Ketua Yayasan Dapuran Kipahare, Irman Firmansyah.

Menurutnya, mudahnya investor menggunakan dan membongkar area bangunan bersejarah mensiratkan kebijakan tata ruang di Kota Sukabumi belum memperhatikan konsep heritage.

“Pembangunan seolah tak berkesinambungan karena hanya berputar disitu saja dengan membongkar lahan dan bangunan yang sudah ada meskipun belum tentu pas. Seharusnya, bisa menggunakan lahan lain baik yang bukan lahan bersejarah ataupun diluar area keramaian. Idealnya kota baru akan tumbuh dan kota lama terjaga. Bukannya tumpang tindih,” ungkap Irman kepada Radar Sukabumi (Pojoksatu.id Group), Kamis (19/09/2019).

Menurut Irman, bangunan bersejarah seperti itu memenuhi syarat untuk menjadi cagar budaya. Di Kota Sukabumi, cukup banyak bangunan bersejarah yang belum terlindungi.

“Seharusnya sudah dari awal ditetapkan sebagai cagar budaya. Keterlambatan ini mengakibatkan siapapun yang menghancurkannya, tidak bisa dicegah,” tegasnya.

Lahan dikawasan bangunan bersejarah ini, Irman menerangkan, dulunya adalah Kinder Vacantie Kolonie yakni semacam sekolah liburan anak anak. Sebelumnya juga, merupakan bagian dari Grand Hotel Selabatoe yang terkenal dengan sanatoriumnya hingga ke Singapura dan Malaysia. Bahkan, pernah dikunjungi Pakubuwono X.

“Bahkan, sebelumnya lagi bagian dari tempat pemulihan kesehatan tentara. Bangunan ini memiliki nilai sejarak karena berkaitan dengan sejarah pendidikan di Sukabumi. Selain itu, ada momen Pemboman Jepang tahun 1942 yang juga menimpa bangunan ini sehingga layak jadi monumen. Sehingga, memori kolektif masyarakat tidak hilang,” beber pria berkacamata ini.

Loading...

loading...

Feeds