Musim Kemarau, Kabupaten Sukabumi Semakin Kering

ilustrasi

ilustrasi


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Ratusan hekatare lahan pertanian mengalami kekeringan, akibat dampak dari musim kemarau. Seperti di Kecamatan Cidadap dan Jampang Tengah misalnya.

Berdasarkan data yang tercatat di Kecamatan Cidadap, hampir seluruh desa yang ada di wilayah tersebut mengalami kekeringan.

Seperti Desa Banjarsari, Padasenang, Cidadap, Mekartani, Hegarmulya dan Desa Tenjolaut. Bahkan, ada sebagian lahan pesawahan warga yang mengalami gagal panen akibat tidak terailir air secara maksimal.

Camat Cidadap, Engkus Kustaman mengatakan, akibat musim kemarau ini, sekitar 200 hektare lahan pesawahan warga di wilayah Kecamatan Cidadap terancam gagal panen.

“Sementara untuk jumlah jiwa yang mengalami krisis air bersih, ada sekitar 500 jiwa dari jumlah total penduduk sekitar 2000 penduduk,” jelas Engkus kepada Radar Sukabumi (Pojoksatu.id Group), melalui telepon selulernya Minggu (07/07/2019).

Setiap musim keramau, sambung Engkus, wilayah Kecamatan Cidadap sering terjadi kekeringan. Hal ini terjadi lantaran wilayah terebut berada di daerah perbukitan.

“Namun biladi bandingkan dengan tahun sebelumnya, krisis air saat ini sangat banyak,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku sudah melaporkan kondisi tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi.

“Kondisi kekeringan di wilayah Kecamatan Cidadap ini, sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Mudahmudahan dalam waktu dekat ini, pemerintah daerah dapat memberikan bantuan soal kesulitan warga dalam mendapatkan air bersih,” imbuhnya.

Hal serupa juga terjadi di Desa Bojongjengkol, KecamatanJampang Tengah. Puluhan hektar pesawahan terancam gagal panen. Pasalnya, ladang sawah saat ini mulai mengalami kekeringan. Dari informasi yang diperoleh Radar Sukabumi menyebutkan, kurang lebih 20 hektar dari empat kedusunan di wilayah Desa Bojongjengkol mengalami krisis air.

“Pada musim kemarau sebelumnya, ladang sawah kami tidak separah ini mengalami kekeringannya. Karena debet air yang bersumber dari Sungai Cikurutug selalu lancar mengalir. Tapi saat ini, tidak ada sama sekali,” ungkap salah seorang petani asal Kampung Bojong jengkol, Pandi.

Loading...

loading...

Feeds