Musim Kemarau, Dua Kedusunan di Sukabumi Krisis Air Bersih

Ilustrasi Krisis Air Bersi

Ilustrasi Krisis Air Bersi


POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Lebih dari satu bulan, ratusan warga Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, mengalami krisis air bersih. Sumber air yang selama ini mereka manfaatkan untuk kebutuhan sehari-sehari, kini kondisinya kering.

Seorang warga Kampung Cimaja, RT 1/2, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Abdul Malik (28) mengatakan, untuk mendapatkan air bersih, ia dan ratusan warga lainnya setiap hari terpaksa mengambil air dengan jarak 2 kilometer melewati kebun dan jalan yang cukup curam.

“Setiap hari kami selalu mengambil air bersih di Gunung Gombong, yang jaraknya cukup jauh dari sini. Kami harus antre demi mendapatkan satu atau dua ember air bersih,” jelas Abdul kepada Radar Sukabumi (Pojoksatu.id Group), Jum’at (05/07/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan, setiap musim kemarau warga Kampung Cimaja selalu mengalami krisis air bersih. Hal ini terjadi lantaran lokasi pemukiman penduduk berada di dataran tinggi.

“Kalau membuat sumur di kampung ini, harus lebih dari 15 meter, kalau kurang pasti tidak akan ada airnya. Musim kemarau ini, hampir seluruh sumur yang ada di kampung ini mengering,” imbuhnya.

Sekretaris Desa Ciengang, Ajat mengatakan, dari empat kedusunan yang ada di Desa Ciengang, dua kedusunan diantaranya mengalami krisis air bersih. Yakni Kedusunan Cileguk dan Kedusunan Suradita.

“Sekitar 600 jiwa dari 250 KK di wilayah Desa Ciengang yang mengalami krisis air bersih. Hampir setiap tahun dan setiap musim kemarau, daerah ini selalu mengalami krisis air bersih. Tahun ini lebih parah jika dibandingkan dengan musim kemarau tahun sebelumnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah Desa Ciengang sudah melaporkan terkait kondisi warganya yang mengalami krisis air bersih tersebut kepada pemerintah Kecamatan Gegerbitung dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

“Semoga saja dalam waktu dekat ini, BPBD dapat segera mendistribusikan bantuan air bersih kepada mereka. Sebab, sumber air untuk kebutuhan seharihari di dua kedusunan tersebut, sudah tidak ada,” pungkasnya.

(RS/den/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds