Harga Gabah di Gunungguruh Kabupaten Sukabumi Turun Drastis

Seorang petani di Kampung Cibeo, RT 2/8, Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Heni (48), saat menunjukkan tanaman padinya banyak yang kosong akibat intensitas curah hujan. Radar Sukabumi

Seorang petani di Kampung Cibeo, RT 2/8, Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Heni (48), saat menunjukkan tanaman padinya banyak yang kosong akibat intensitas curah hujan. Radar Sukabumi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Petani di Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi  mengeluhkan harga gabah yang turun drastis. Mereka pun berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga di pasaran.

Seorang petani di Kampung Cibeo, RT 2/8, Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Heni (48) mengatakan, menurunnya harga gabah ini akibat kualitas gabah yang turun karena terus diguyur hujan.

“Padinya kelebihan kadar air. Sehingga kualitasnya rendah,” jelas Heni kepada Radar Sukabumi (Pojoksatu.id Group).

Musim tanam pertama ini, sambung Heni, hasil panen padi menurun karena faktor cuaca yang relatif dingin. Terlebih lagi, saat musim hujan para petani terkendala dalam pertumbuhan tanaman karena rendahnya pancaran sinar matahari.

“Gabahnya banyak yang kosong,” timpalnya.

Hal serupa disampaikan Abdul Rojak (38), warga Kampung Simli, Desa Kebonmanggu. Menurutnya, akibat intensitas hujan yang tinggi, musim panen kali ini ia mengalami kerugian.

Dari lima petak sawah yang biasanya menghasilkan 20 kwintal, namun kini hanya menghasilkan 13 kwintal. “Kondisi seperti ini bukan hanya dialami oleh saya saja, hampir seluruh petani di Desa Kebonmanggu mengalami,” jelasnya.

Menurutnya, hasil panen padi kali ini sangat menurun jika di bandingkan dengan panen sebelumnya. Sebab menurutnya, hasil produksi padi bulan ini tidak sebanding dengan jumlah modal yang dikeluarkan.

“Apalagi harga jual gabah basah saat ini menurun drastis. Sehingga tidak seimbang dengan biaya produksi. Harga obat hama juga mahal, belum pakai pupuk non-subsidi,” bebernya.

Kepala Desa Kebonmanggu, Rasmita membenarkan soal harga gabah yang menurun akibat faktor cuaca tersebut. Warganya yang mayoritas sebagai buruh petani itu pun mengeluhkan harga jual gabah yang tidak sebanding dengan biaya tanam, perawatan hingga panen.

“Para petani juga mengalami kesulitan saat menjemur gabah. Ya karena cuacanya kurang bersahabat. Imbasnya, harga gabah ditingkat petani menurun seperti sekarang,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi kerugian lebih besar, maka pemerintah Desa Kebonmanggu akan melakukan penyuluhan terhadap para petani.

“Kami akan menjalin kerjasama dengan PPL dan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan supaya kerugian petani tidak begitu besar ke depan,” pungkasnya.

(RS/den/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds