Rusak Parah! Begini Kondisi Jembatan Linggamanik di Sukabumi

EKSTRA HATI-HATI: Seorang pengendara roda dua nampak ekstra hati-hati saat melintasi jembatan Linggamanik yang kondisinya kian memprihatinkan.

EKSTRA HATI-HATI: Seorang pengendara roda dua nampak ekstra hati-hati saat melintasi jembatan Linggamanik yang kondisinya kian memprihatinkan.

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Keselamatan warga pengguna jembatan Linggamanik di Desa Nengerang, Kecamatan Jampangtengah terancam karena kondisi jembatan semakin rusak parah.

Lubang yang berada di badan sarana penghubung ini membuat warga pengguna harus ekstra hati-hati saat melintas.

Seorang guru SDN Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Rizal Maulana mengatakan, jembatan yang terbuat dari kayu dengan panjang 14 meter dan lebar 4 meter ini, kondisinya semakin rusak parah. Ini karena pemerintah baik desa maupun kabupaten belum juga memperbaikinya.

“Yang paling kami khawatirkan itu bila anak didik kami melintas. Orang tua mereka tak berani bawa motor, karena takut celaka,” ujar Rizal kepada Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar), Jumat(15/2/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan, jembatan yang berada di bawah pengawasan pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi ini, sudah bertahun-tahun belum pernah diperbaiki. Selama ini, supaya warga bisa melintasinya dengan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, mereka berinisiatif memperbaikinya dengan swadaya dan juga menggunakan peralatan seadanya.
“Jembatan Linggamanik ini bolong setelah mobil truk bermuatan kayu melintas pada pekan lalu. Sejak itu, kerawanan terjadinya kecelakaan semakin memuncak,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Nanggerang, Surahman mengatakan, pihaknya sudah berulang kali melaporkan kondisi jembatan tersebut kepada pemerintah, mulai dari tingkat kecamatan hingga pemerintah tingkat kabupaten.

“Namun sampai saat ini belum juga ada realisasinya. Padahal pada 2018 lalu sempat ada pengukuran dari pemerintah daerah. Ya katanya pada awal tahun ini akan segera dibangun, tetapi faktanya hingga saat ini belum juga ada pembangunan,” katanya.

Untuk bisa dilintasi, ujar Surahman, setiap enam bulan sekali warga terpaksa harus rela swadaya untuk menganti kayu-kayu yang sudah nampak lapuk.

“Kami sendiri dari pemerintah desa tidak berani mengalokasikan anggaran baik DD maupun ADD untuk membantu warga terkait perbaikan jembatan ini. Bila kami memaksakan, tentunya itu melanggar. Sebab tidak ada petunjuk teknis dan memang bukan ranah kami untuk memperbaiki jembatan yang saat ini berstatus jembatan kabupaten ini,” ujarnya.

Sebab itu, ia berharap pemerintah daerah agar secepatnya membangun jembatan yang menghubungkan sejumlah perkampungan yang ada di Desa Nangerang.

“Jalan ini merupakan satusatunya akses utama warga menuju tempat publik. Makanya kami berharap supaya jembatan ini segera diperbaiki,” pungkasnya.

(radar sukabumi/den)

loading...

Feeds