Simulasi Pileg 2019 di Sukabumi Didominasi Muka Lama

Caleg (Pileg) 2019./Foto: ilustrasi

Caleg (Pileg) 2019./Foto: ilustrasi

Quick Count Pilpres 2019

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Muka-muka lama nampaknya masih akan mendominasi hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 di Sukabumi.

Terlihat dari hasil simulasi yang dilakukan Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar), ada lima muka lama yang masih mentereng dengan perolehan suara tertinggi. Hanya saja, ada perubahan hasil perolehan baik figur maupun partai.

Heri Gunawan menjadi Calon Anggota Legislatif (Caleg) yang memperoleh suara terbanyak yakni memperoleh sebanyak 6.0 % dari 849 surat suara sah hasil simulasi pemilu yang dilakukan Radar Sukabumi.

Sedangkan, Dewi Asmara meraih 3.9% disusul oleh Ribka Tjiptaning dengan raihan 2.6% dan Desi Ratnasari 2.0% suara. Diurutan ke lima, ada Reni Marlinawati dengan memperoleh 1.9% dan mantan Walikota Sukabumi, M Muraz menjadi penghuni terakhir dengan 1.4% suara.

Sedangkan untuk partai politik, Gerindra kali ini menjadi jawaranya di Sukabumi dengan memperoleh 26.7% suara. Disusul oleh PDIP dengan raihan 12.1% lalu ada Golkar dengan capaian 10.1% suara. Sedangkan untuk PPP, berhasil meraih 6.5% suara lalu ada Demokrat dengan raihan yang sama yakni 6.5% suara. Untuk posisi enam besar terakhir, ada PKB dengan raihan 5.8% suara.

Untuk hasil simulasi Radar Bogor Group yang mencakup wilayah daerah pemilihan (dapil) Jabar III, Jabar IV, Jabar V, Jabar VI dan Jabar VII, juga masih dikuasai partai besutan Prabowo Subianto dengan raihan total 22.54%. Kemudian ada PDIP dengan raihan 15.01% suara, PKS meraih 10.91%, Golkar meraih 9.23%, Demokrat meraih 8.74%, PKB meraih 6.09% dan PAN dengan raihan 6.09% suara.

Pengamat Politik Sukabumi, Asep Deni menilai, memang persaingan Pileg 2019 ini sangat ketat. Pasalnya, Undang-undang (UU) Pemilu 2019 menjadi salah satu penyebab banyaknya perubahan.
Diantaranya, mekanisme perhitungan kursi dimana dilakukan dengan menggunakan motode sainte lague murni. Teknik penghitungan suara sainte lague ini, menerapkan bilangan pembagi berangka ganjil mulai dari 1,3,5,7,9, dan seterusnya.

Cara ini berbeda dengan Pemilu 2014 lalu yang menggunakan metode kuota hare atau Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).

“Dengan aturan yang baru itu, mengalami perubahan yang signifi kan dan diasumsikan menguntungkan partai besar,” kata Asep kepada Radar Sukabumi.

Tak hanya itu, ketatnya persaingan antar Caleg DPR RI itu berkaitan dengan bagaimana mendobrak bukan hanya popularitas dan ektabilitas, tetapi kemampuan dari masing-masing caleg untuk mempersiapkan anggaran sehingga bisa terpilih.

“Karena saat ini, semua masyarakat juga tahu untuk menjadi anggota legislatif, biaya politiknya mahal,” ucapnya.

Untuk itu, agar bisa memenangkan Pileg 2019, para caleg harus jeli dalam pemetaan pemilih, penentuan matematika politik, sebaran wilayah basis lawan, hingga penentuan strategi pola pemenangan yang cermat.

“Karena memang, tingkat kontestasi semakin ketat karena persaingannya sangat luar biasa. Intinya, setiap caleg harus mampu membuat strategi bagaimana mereka bisa berkenan di hati masyarakat,” ujarnya.

Dirinya meminta, agar masyarakat semakin cerdas dalam memilih caleg dari dapilnya masing-masing yang harus bisa membawa aspirasi bagi perkembangan daerah lebih baik lagi ke depannya.

“Ya masyarakat saat ini juga perlu semakin cerdas dalam menentukan caleg dari dapilnya yang bisa menampung aspirasi masyarakat demi kemajuan daerah,” pungkasnya.

(radar sukabumi/bam)

loading...

Feeds