Waspada! Dua Desa di Cisolok Terancam Longsor

Ilustrasi Longsor

Ilustrasi Longsor

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Setelah terjadi longsor yang menewaskan 33 orang di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok awal bulan ini, kini bencana kembali mengancam dua desa lainnya.

Berdasarkan pendataan dan laporan dilapangan, ada dua desa yang mengalami pergerakan tanah. Kedua desa tersebut adalah desa Sukareme dan Desa Cicadas.

“Laporansementaraberdasarkan pengecekan, ada dua desa yang dilaporkan mengalami pergerakan tanah.

Pergeseran tanah tersebut berdampak kepada 100 rumah lebih. Meski tidak sporadis, namun bisa mengancam keselamatan warga,” jelas Camat Cisolok, Asep Mauludin saat dihubungi, Selasa (22/1).

Menurutnya, kondisi pergerakan tanah tersebut masih berdekatan dengan Desa Cimapag yang sebelumnya mengalami longsor.

Jarak antara kedusunan Desa Cimapag dengan Desa Cicadas hanya berjarak sekitar 500 meter hingga 1 KM.

Sementara untuk Desa Sukareme, merupakan desa perbatasan dengan Provinsi Banten.

Berdasarkan data sementara, ada 84 Kepala Keluarga (KK) dari 309 jiwa yang ada di dua ke RT-andiKampungBojong, Desa Cicadasada terancam longsor akibat pergerakan tanah yang mulai retak.

“Berdasarkan pantauan dilapangan, retakan tersebut sudah terlihat begitu besar. Makanya kami bersama aparat terkait merencakan akan merelokasi warga yang terdampak,” bebernya.
Setelah melakukan pemantauan, tentu pihaknya saat ini sudah mengagendakan untuk merelokasi warga yang terancam. Bahkan, saat ini pemerintah setempat sudah menyiapkan lahan sawah seluas kurang lebih 5 ribu meter persegi untuk nantinya digunakan pemukiman warga.

“Saat ini anggaran yang akan digunakan untuk membeli lahan tersebut merupakan dari donasi masyarakat,” akunya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, saat ini warga yang terdampak berdasarkan komunikasi sudah siap untuk direlokasi ketempat yang lebih aman.

Namun meski begitu, dirinya masih menunggu intruksi dari pemerintah daerah dan pusat untuk selanjutnya melakukan langkah-langkah penataan pemukiman warga yang terdampak pergerakan tanah dan longsor tersebut.

“Belum, kajiannya masih menunggu. Keputusannya nanti tergantung pemerintah daerah dan pusat ataupun provinsi. Bahkan untuk saat ini, penanganannya masih menunggu instruksi dari pemerintah,” tukas Asep.

Sementara itu, Kepala Bidang Logistik dan Kedarutan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Kabupaten Sukabumi, Maman Suherman mengatakan, pihaknya mengaku belum mengetahui adanya bencana pergerakan tanah yang telah menerjang puluhan rumah penduduk di wilayah Desa Cicadas, KecamatanCisoloktersebut.
Untuk itu, ia berencana akan mengintruksikan petugas BPBD melakukan peninjauan ke lokasi bencana alam tersebut.

“Saya baru tahu sekarang, laporannya belum masuk ke BPBD. Instya Allah, besok kita akan meinjua ke sana,” katanya.

Ia menghimbau kepada seluruh warga Kabupaten Sukabumi, agar meningkat kewaspadaan selama musim hujan berlangsung utamanya yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor.

Terlebih lagi, Gubernur Jawa Barat besama BMKG Provinsi Jawa Barat, sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) siaga darurat bencana. Saat itu, BMKG memprediksi, terhitung pada Oktober 2018 sampai akhir Januari2019, akan terjadi curah hujan yang tinggi disertai angin dan petir yang dapat berpotensi akan terjadinya bencanaalam. Seperti bencanalongsor, banjirdanbencana angin puting beliung.

“Kewaspadaan ini bagi masyarakat yang tinggal di daerah dataran rendah, khususnya di sekitar dekat bantaran sungai serta warga yang bermukim disekitar perbukitan atau ketinggian. Memang saat ini, banyak kerjadi bencana longsor dan banjir. Bahkan, hari ini kita bersama Sekda Kabupaten Sukabumi berkeliling meninjau lokasi longsor di daerah Kampung Cisarua, Desa Girijaya, Kecamatan Warungkiara,” pungkasnya.

(radar sukabumi/den/hnd)

Loading...

loading...

Feeds