Waspadai Gempa Besar Sesar Cimandiri

Ilustrasi Gempa Bumi

Ilustrasi Gempa Bumi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI — Dua hari kemarin, wilayah Jawa Barat terus diguncang gempa. Pertama terjadi pada Senin sekitar Pukul 22.04 WIB dengan kekuatan 4.8 magnitudo dengan Lokasi 8.15 LS, 107.88 BT (62 Km Barat Daya Kab-Tasikmalaya- Jawa Barat).

Kemudian Rabu (8/1/2019) sekitar Pukul 16:54 WIB, gempa kembali menggetarkan wilayah Sukabumi.

Kali ini, terletak pada koordinat 7,83 LS dan 106,44 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 93 kilometer arah selatan Kota Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, aktifitas gempa bumi yang sering terjadi diwilayah selatan Jawa Barat terutama di Kabupaten Sukabumi penyebabnya tidak lain aktivitas siesmik sesar atau patahan gempa Cimandiri (Cimandiri Fault).

Para peneliti menyebutkan bahwa sesar Cimandiri lebih aktif daripada sesar Lembang karena posisinya yang lebih dekat dengan tumbukan lempeng tektonik di zona subduksi selatan Jawa.

“Sejauh ini, Aktivitas sesar Cimandiri lebih tinggi dari patahan Lembang, “ujar pakar Geologi dari Universitas Indonesia (UI) Miko Sejalan dengan para peneliti sebelumnya, bahwa sumber gempa subduksi yang terjadi pada sesar cimandiri diperhitungkan memiliki potensi gempa yang lebih besar dari pada patahan gempa lainnya yang berada di Jawa Barat.

Selain itu juga khusus di Kabupaten Sukabumi memiliki beberapa segmen sesar cimandiri yang memiliki energi yang cukup tinggi jika terlepas. Memang berdasarkan sejarah mencatat, Sesar cimandiri pernah memporak porandakan ribuah rumah pada tahun 1900 dan 1973.

Kekuatan gempa sesar Cimandiri khususnya segmen sesar Cimandiri Citarik Cibadak dan Segmen Gandsoli- Sukaraja sangat kuat. Menurutnya, terkadang orang menilai hal berita seperti ini membuat merasa takut dan cemas masyarakat, namun sebetulnya dengan sudah dipublikasikan masyarakat tentunya akan sadar bahaya bencana dan ujungnya melakukan persiapan dan pencegahan jika bencana itu terjadi.

“Mari kita saling mengingatkan, karena sejarah kegempaan sesar di Cimandiri perlu diwaspadai, “terangnua.

Sebelumnya, para ahli menyebutkan bahwa sesar Cimandiri memang lebih aktif dari sesar Lembang mengingat komponen tekanan utamanya berasal dari zona subduksi pertemuan dua lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang jaraknya 300 kilometer dari garis pantai.

Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi Provinsi Jawa Barat pada tahun 2014, disebutkan bahwa analisis bahaya gempa bumi yang memperhitungkan parameter sumber gempa bumi, penjalaran gelombang seismik, serta kerentanan tanah sudah secara detail ditulis.

Berdasarkan peta KRB tersebut, wilayah Jawa Barat terdiri dari KRB menengah yang berpotensi terlanda guncangan gempa bumi dengan intensitas VII-VIII MMI, serta KRB tinggi yang berpotensi terlanda guncangan gempa bumi dengan intensitas lebih besar dari VIII MMI. KRB tinggi berlokasi di wilayah yang berdekatan dengan sumber gempa bumi dan daerah yang dengan sifat fisis tanah yang sangat lunak. Bahkan didaerah yang pernah mengalami gempa dimasa dulu kemungkinan akan terjadi gempa bumi lagi, namun meski belum ada yang tau dan memprediksi waktu dan kekuatan itu. Sudah seharusnya tetap Wapada.

(radar sukabumi/hnd)

loading...

Feeds