TPT Perumahan di Cikole Jebol Rusak Lima Rumah Warga dan Satu Kelas, Walikota Geram

EVAKUASI: Petugas BPBD Kota Sukabumi bersama warga saat membersihkan material jebolnya TPT milik salah satu pengembang perumaha di RT 1/RW 10
Harempoy kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole, Selasa (8/1).

EVAKUASI: Petugas BPBD Kota Sukabumi bersama warga saat membersihkan material jebolnya TPT milik salah satu pengembang perumaha di RT 1/RW 10 Harempoy kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole, Selasa (8/1).

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Akibat Tembok Penahan Tanah (TPT) milik salah satu pengembang perumahan jebol, lima bangunan warga dan satu ruang kelas di RT 1/RW 10 Harempoy kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole mengalami kerusakan.

Diduga, jebolnya TPT itu lantaran tidak bisa menahan debit air pasca hujan deras yang mengguyur daerah tersebut, sehingga material tanah pada perumahan itu meluber ke pemukiman warga dan merusak dinding-dinding rumah warga.

Meski tidak ada korban jiwa, namun kejadian yang terjadi pada pukul 18.30 di hari Senin (7/1/2019) itu mengakibatkan kerugian materil.

Wakil Walikota Sukabumi, Andri Hamami yang langsung meninjau lokasi merasa berang dengan kejadian tersebut. Ia berencana akan melakukan pemanggilan kepada pihak pengembang untuk mengetahui duduk persoalan yang terjadi.

Sebab diduga, jebolnya TPT itu, lantaran ada kesepakatan yang tidak diindahkan pihak pengembang atau developer.

“Kalau memang ini akibat dari ulah pihak developer dengan pembangunan yang salah maka kita akan mendatangi pihak developer untuk meminta pertanggung jawaban. Namun sebelumnya kami akan meminta kajian dari Dinas PU dan Dinas Lingkungan Hidup karena kita harus berbicara dengan data. Karena kita tidak bisa menyalahkan langsung, tapi jika data itu ada maka kita dengan Dinas Sosial dan juga Lurah Subang Jaya mencoba mendata berapa kerugian masyarakat yang diakibatkan oleh longsor ini,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama Lurah Subang Jaya, Fery Munggaran, menyampaikan bahwa ada perjanjian yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal oleh pihak pengembang perumahan.

“Saya lihat dari perizinan pembangunan perumahan Mutiara Kencana atau disebut Puri Pesona atau juga biasa disebut Perum Tan Legak di tahun 2011 lalu, ternyata hanya tertulis izin pembangunan perumahan Mutiara Kencana sebanyak delapan unit rumah,” jelasnya.

“Namun ternyata kini terdapat lebih dari delapan rumah, nah ini yang mau saya tanyakan kepada pihak pengembang perumahan,” lanjutnya.

Ia pun menilai, pembangunan dinding pembatasnya tidak sesuai dengan harapan, artinya pihak pengembang hanya membangun asal dengan menempelkan saja tidak ada perhitungan yang matang, sehingga saat hujan deras air bisa meresap ke pembatas tersebut dan mengakibatkan penggeseran tanah. “Mereka asal nempel saja,”tambahnya.

Menurut Fery, kejadian yang dialami warga ini merupakan kedua kalinya terjadi. Ia berharap, permasalahan ini segera terselesaikan dan mencari solusi bersama-sama agar tidak lagi terjadi bencana seperti sekarang ini.

“Kejadin jebol tanggul ini sudah kedua kalinya, saya pribadi selalu menghimbau masyarakat untuk ikut serta mengawasi pembangunan karena segala pembangunan yang ada harus berwawasan lingkungan,” imbuhnya.

Sementara itu, Pelaksana rehabilitasi dan rekontruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota sukabumi, Aceng mengatakan, pihaknya akan langsung melakukan proses evakuasi dan upaya penahanan sementara, sebab dikhawatirkan jika tidak ditangani dengan segera akan mengancam para siswa SD Subangjaya 1 dan warga.

“Kalau tidak segera di tangani akan mengancam jiwa khususnya para siswa,” ujarnya,

Aceng. Ditempat terpisah, Sumarna (31), salah seorang warga yang terkena dampak bencana mengaku sangat terkejut dengan kondisi rumahnya yang saat ini terlihat tidak layak huni. Barang-barang rumah tangga seperti kasur, lemari, karpet dan lainnya basah dan juga kotor terkena longsor material tanah.

“Awalnya terdengar suara gaduh dibelakang itu abis magrib, biasanya cuma air pembuangan sedikit saja yang kebelakang rumah, tapi ternyata airnya udah tinggi dan membuat jebol tembok sampai akhirnya rumah saya banjir. Saya juga bingung semua barang habis karena longsor, sampai kita sekeluarga mengungsi untuk tidur karena sudah enggak bisa tidur disini,” ceritanya.

Ia berharap kejadian ini bisa segera terselesaikan, sebab khawatir akan terjadinya longsoran susulan.

(radar sukabumi/cr5)

loading...

Feeds