Cerita Korban Longsor Cisolok, Firasat Buruk Kades Saat Rumahya Didatangi Seekor Burung

Bencana longsor di Kampung Garehong, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi

Bencana longsor di Kampung Garehong, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Awal pergantian tahun dari 2018 ke 2019, harusnya menjadi momen membahagiakan bagi warga Kampung Cimapag Garehong, RT 05/04, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok.

Karena, meskipun daerah ini secara geografis jauh dari pusat ibu kota, namun gebyar pergantian tahun kerap dirasakan warga yang masih memegang teguh budaya leluhurnya. Ya, momen itu berubah menjadi duka karena longsor secara beringas meratakan kampung yang dihuni 100 jiwa tersebut.

Trauma. Itulah kata pertama yang disampaikan Zulfikar, salah satu saksi mata insiden longsor di Kampung Garehong, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Pria berusia 26 tahun ini secara sadar dan dengan mata kepala sendiri menyaksikan tebing setinggi 960 Mdpl meratakan tempat tinggalnya. Selain rumah tinggal, yang paling membuat hati Zulfikar pilu ialah sang isteri cinta, Riska bersama anak dalam kandungannya ikut tertimbun longsor. Syok, itulah perasaan yang ia rasakan saat itu.

“Saat kejadian, saya sedang bekerja disalah satu perusahaan di gunung yang berhadapan dengan Gunung Cikaso. Saya benar-benar menyaksikan bagaimana gunung itu amblas dan menimpa kampung tempat tinggal saya dan keluarga. Terlihat seperti ombak,” ujar Zulfi kar kepada Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar).

Meskipun ia menyaksikan bagaimana ‘beringas’ longsor menerjang, namun Zulfikar tak bisa berbuat banyak. Jarak yang begitu jauh, tak memungkinkannya bisa menolong sang isteri yang tengah mengandung anak pertama mereka. Raga Zulfikar seperti gunung es yang meleleh. Ambruk, penuh sesak di dada.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana istri saya berjuang menyelamatkan diri dari material longsor saat itu. Terlebih lagi, ia tengah mengandung tujuh bulan. Badan saya langsung ambruk, dan baru tersadar oleh teman kerja,” tuturnya lagi.

Zulfikar mengaku, sebelum peristiwa maut itu terjadi, ia sempat merencanakan untuk merayakan pergantian tahun bersama isterinya di Pantai Cibangban. Pantai itu dipilih karena keinginan sang isteri, sebelum proses melahirkan tiba.

“Namun rencana itu kini pupus. Isteri dan adik ipar saya tertimbun dan sampai sekarang belum ditemukan. Saya berdoa, semoga almarhumah diberikan tempat yang laik di sisi-Nya,” lirihnya.

Hal senada juga disampaikan Hengky Kurniawan (13), bocah yang selamat dalam peristiwa longsor maut di lokasi bencana. Saat kejadian, ia bersama sang adik, Farel Herdana (6) dan empat orang teman sebayanya hendak pergi ke Mushola untuk mengaji. Namun sebelum sampai ke pengajian, ia mampir terlebih dahulu ke warung milik pamannya.

“Kalau mamah dan bapak, saat itu ada di rumah. Saya dan Farel berangkat ngaji, tapi mampir dulu ke warung,” bebernya.

Saat di warung itu, Hengky dikejutkan dengan suara gemuruh yang berasal dari belakang rumah. Suara itu begitu asing di telinganya. Tanpa berfikir panjang, ia dan teman-temannya langsung berlari menuju kampung sebelah.

“Saya langsung lari mengajak adik saya. Setelah sampai di kampung sebelah, saya melihat rumah sudah hilang tertutup tanah. Mamah dan bapak ada di sana,” akunya dengan raut wajah yang masih terlihat trauma.

Kepala Desa Sirnaresmi, Iwan Suwandri menyatakan hal yang sama. Saat terjadi pergerakan tanah, ia mengaku tengah dalam perjalanan menuju lokasi kejadian. Ia pun menyaksikan bagaimana tanah tanpa ampun ‘melumat’ pemukiman warga.

“Suaranya bergemuruh, pergerakannya seperti ombak. Saya mendengar jeritan warga saat tanah itu menimbun rumah mereka,” akunya keluh.

Selaku tokoh dan kepala desa, Iwan mengaku sebelum kejadian seperti ada yang memberikan pertanda akan terjadinya bahaya. Tanda itu datang dari seekor burung yang masuk ke kediamannya saat hari masih buta namun tidak begitu lama.

“Ada seekor burung datang ke rumah saya pagipagi. Isteri saya yang mengetahui itu, saya larang untuk mengusir burung itu. Saya berkeyakinan, akan terjadi bencana alam di Sukabumi. Ternyata benar, bencana itu datang dan sangat menyedihkannya terjadi di desa kami,” singkatnya.

(radar sukabumi/Rendi)

loading...

Feeds