Memprihatinkan, Guru Ngaji di Cibadak Tinggal di Gubuk, Begini Kondisinya

Guru Ngaji Cibadak Tinggal Di Gubuk Reyot

Guru Ngaji Cibadak Tinggal Di Gubuk Reyot

POJOKJABAR.com, SUKABUMI — Miris. kehidupan seorang guru ngaji Ade Jaenudin (48) sangat memprihatinkan, betapa tidak Ade yang diketahui warga Kampung Babakan Sirna RT (4/4) Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak harus rela tidur di Gubuk Reyot yang berukuran 2 kali 5 meter.

Kondisi bangunan yang sudah tidak berbentuk rumah jelas sangat memprihatinkan. Terlebih, jika turun hujan gubuk tersebut bocor, sebab atap rumah terbuat dari jerami dengan dinding bilik bambu.

“Saya tinggal disini baru satu tahun karena tidak memiliki rumah akhirnya terpaksa tinggal disini,” kata Ade, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Ade mengatakan, rumah yang ditempatinya saat ini berada dilahan eks HGU PT Tenjojaya Cibadak dengan dihuni sebanyak tiga jiwa istri dan anaknya. Namun, terkadang anaknya menginap di rumah milik neneknya yang keberadaanya cukup jauh dari tempat tinggalnya tersebut.

“Saya hanya tingga dengan anak dan istri saya. Tapi, anak saya terkadang tinggal bersama neneknya,” ujarnya.

Sementara sambung Ade, mata pencaharian sehari harinya hanya mengandalkan dari hasil memulung rongsokan atau usaha serabutan lainnya. Hal itu, dilakukan guna memenuhi kebutuhan keluarga. “Saya sehari-hari selain berkebun juga mencari rongsokan untuk menambah penghasilan,” tuturnya.

Diterangkannya, apabila musim hujan dirinya khawatir gubuk miliknya ini ambruk atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Karena, kondisi bangunan itu sudah lapuk. Sebab itu, dirinya berharap pemerintah bisa membantu membangun rumah miliknya agar lebih layak ditempati.

“Kami harap ada bantuan dari pemerintah terkait untuk bisa membangunkan rumah yang layak disinggahi. Karena, dengan penghasilan kami hanya cukup untuk keperluan sehari-hari, ” paparnya.

Terlebih tambah dia, keberadaan tempat tinggalnya ini jauh dari pemukiman warga hingga berjarak sekitar 400 meter. Selain itu, di tempat tinggalnya sulit mendapatkan air bersih terpaksa harus mengambil air bersih dari sumur yang jaraknya hingga ratusan meter. “Mudah-mudahan secepatnya pemerintah bisa membangunkan rumah untuk kami,” harapnya.

Menanggapi hal tersebut, Camat Cibadak, Hery Sukarno menjelaskan, pihaknya akan secepatnya menyikapi persoalan tersebut dengan segera membangunnya. Bahkan, saat ini sejumlah material seperti pasir, batu dan yang lain sebagainya. “Kami sudah mempersiapkan sejumlah material untuk pembangunan rumah semi permanen untuk disinggahinya. Sementara, anggaranya hasil dari bantuan desa, kecamatan dan pihak ke tiga,” jelasnya.

Diterangkannya, jumlah Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di Kecamatan Cibadak itu bukan hanya satu ataupun dua rumah saja. Tetapi, jumlahnya mencapai ribuan Rutilahu.

“Rutilahu di Kecamatan Cibadak memang mencapai ribuan rumah. Kami mendorong, namun kemampuan dari Pemda selama satu tahun hanya satu Rutilahu, “pungkasnya.

(radar sukabumi/cr16)

loading...

Feeds