Terbukti Cemari Sungai Cimahi, PT GWP Sukabumi Ditutup

DISOAL: Salah seorang warga sedang menunjukan Kondisi Sungai Cimahi di Kampung Sekarwangi RT (4/28) yang terlihat keruh tercampur limbah tambang kuarsa.

DISOAL: Salah seorang warga sedang menunjukan Kondisi Sungai Cimahi di Kampung Sekarwangi RT (4/28) yang terlihat keruh tercampur limbah tambang kuarsa.

Cari Aman

POJOKJABAR.com, SUKABUMI — Setelah mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, akhirnya pertambabgan PT Gunung Walat Perkasa (GWP) ditutup sementara.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, terbukti PT GWP sudah melakukan pencemaran air sungai dengan membuang limbah pencucian pasir ke sungai.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Abdul Kodir mengatakan, berdasarkan hasil lab bahwa memang terjadi pencemaran di Sungai Cimahi tepatnya di Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Bahkan pada air sungai tersebut terdapat peningkatan baku mutu. Hal itu, akibat limbah pencucian pasir kuarsa ke aliran sungai sehingga menimbulkan keruh dan berlumpur.

“Ya, yang asalnya 21 poin saat ini menjadi 27 poin. Jadi, ada peningkatan sebanyak enam poin. Memang secara kasat mata juga sudah terlihat kekeruhan aliran sungai tersebut kondisinya keruh,” kata Abdul, Senin (6/8/2018).

Sebelumnya, DLH sudah melayangkan surat teguran kepada pihak perusahaan pertambabgan PT Gunung Walat Perkasa (GWP) untuk secepatnya membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dengan adanya IPAL, maka limbah dari perusahaan bisa ditampung terlebih dulu sebelum di buang ke aliran sungai.

“Kami sudah melayangkan surat kepada perusahaan agar bisa membuat IPAL agar berjalan dengan optimal,” ucapnya.

Sebelum adanya IPAL, perusahaan perlu tidak beroperasi terlebih dulu sebelum dilengkapi. Hal itu, dilakukan supaya tidak menimbulkan dampak negatif terhadap warga setempat.

“Saya sudah dapat informasi saat ini perusahaan sudah berhenti beroprasi untuk sementara waktu karena tengah melengkapi IPAL,” ujarnya.

Tak cukup disitu, DLH juga akan terus melakukan pemantauan terhadap perusahaan tersebut dan melakukan pengecekan kelapangan terkait dampak yang ditimbulkan pabrik yang berada di Kecamatan Cibadak.

Soalnya, perusaan pasir kuarsa itu di wilayah tersebut bukan hanya satu saja. Namun, terdapat beberapa perusaan yang berpotensi memiliki pencemaran lingkungan yang sama.

“Kami bersama instansi terkait lainnya akan terus memantau dan melakukan kroscek kelapangan. Kami himbau, masyarakat agar lebih selektif dalam menggunakan air sungai karena saat ini sudah mulai surut,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang Warga Kampung Sekarwangi Naji (59) menerangkan, komdisi air Sungai Cimahi sudah bebeberapa hari terakhir ini kemabi normal tanpa keruh dan berlumpur.

“Sudah tiga hari kondisinya sudah seerti semula lagi tanpa keruh dan berlumpur. Karena, infonya perusahaan pasir kuarsa berhenti beroprasi dulu sementara waktu, “ terangnya.

Menurutnya, warga bukan menginginkan perusahan berhenti. Tetapi, jangan sampai merugikan masyarakat dengan membuang limbah ke sungai tanpa terlebih dulu dilakukan pengolahan.

“Warga hanya meminta perusahaan mencemari lingkungan dengan membuang limbah ke sungai karena saat ini aliran sungai sangat dibutuhkan,” tukasnya.

Ketika dikonfi rmasi, Direktur Utama PT GWP, Hilmi mengaku, untuk sementara waktu perusahaan ini tidak beroprasi. Karena, tengah melakukan pembuatan bak penampungan limbah dan proses pembuatan IPAL.

“Sementara di stop dulu. Kita lagi membuat bak untuk penampungan limbah atau IPAL dan Alhamdulillah besok sudah selesai,” singkatnya.

(radar sukabumi/cr16/d)


loading...

Feeds

Konsep render diduga iPad terbaru. (Viktor KadarVia9to5Mac)

Beginikah Model IPad Terbaru?

APPLE telah mengonfirmasi akan menjadi tuan rumah acara pada 30 Oktober mendatang. Dari sana banyak pihak berharap bahwa iPad baru akan …