Debit Air PDAM Kota Sukabumi Alami Penurunan dari Batas Normal

Ilustrasi PDAM.

Ilustrasi PDAM.

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Memasuki musim kemaru, debit air bersih PDAM Tirta Bumi Wibawa (TBW) Kota Sukabumi mulai mengalami penurunan. Kendari demikian kondisi itu masih bisa tertangani.

Direktur Utama PDAM TBW Kota Sukabumi, Anton Rachman Suryana mengatakan saat ini ada dua titik sumber mata air yang mengalami penurunan dari batas normal. Namun hal itu belum berdampak signifi kan pada pasokan air kepada para pelanggan PDAM TBW.

Awal kemarau sudah mengalami penurunan debit air di dua sumber mata air, ujar Anton kepada awak media di kantornya, Selasa (10/7/2018).

Diterangkan dia, PDAM TBW Kota Sukabumi memiliki tiga sumber air bersih diantaranya, sumber air Batu Karut di Selaawi Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, sumber air Cigadog, Selabintana Kabupaten Sukabumi dan sumber mata air permukaan Cinumpang Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi.

Saat ini lanjut dia, untuk sumber air Batu Karut sudah mengalami penurunan sekitar 26 liter perdetik atau dari kondisi normal debit airnya mencapai sekitar 150 liter per detik menjadi 124 liter per detik saat malam hari. Adapun pada sian hari menyusut hinga 108 liter per detik.

“Siang hari memang lebih besar karena ada pompa yang dimatikan dan ada pembagian dengan warga sekitar, terang Anton. Untuk wilayah Batu Karut sendiri, indikator penurunan ekstrem bisa mencapai 70-80 liter per detik, sehingga perlu melakukan tindakan yang cepat,” ujarnya.

Selain itu, pada sumber air Cigadog Selabintana, debit air mencapai kisaran 35 liter per detik hingga 40 liter per detik. Padahal jika pada kondisi normal debit air tersebut mencapai 50 liter per detik.

“Biasanya kalau cuaca ekstrem mencapai 20-25 liter per detik,” sambung dia.

Sementara untuk sumber mata air permukaan Cinumpang Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi debit air normalnya 250 liter per detik. Saat ini debit air tersebut masih normal dan belum ada penurunan.

Kendati mengalami penurunan debit, Anton mengaku, pasokan air bersih kepada masyarakat khususnya pelanggan masih terbilang normal dengan capaian 20 ribu liter lebih, sehingga PDAM belum melakukan penanganan antisipasi kekeringan karena pola pendistribusian air masih berjalan sebagaimana biasanya. Namun, jika dalam satu atau dua bulan ke depan ada penurunan yang ekstrem maka PDAM akan mengambil langkah penanganan seperti tahun sebelumnya.

“Saat terjadi kondisi ekstrem kami melakukan tiga upaya, pertama pola pengaktifan pompa sumur bor di beberapa titik yang dianggap rawan sulit air, kedua melakukan pendistribusian air diluar waktu biasanya, di mana pada penurunan ekstrem dalam satu hari dilakukan penggiliran penyaluran air seperti enam jam sekali dan menyiagakan mobil tangka utuk menyuplai air ke daerah yang sulit terjangkau pipa,” pungkas Anton.

(radar sukabumi/why)

loading...

Feeds