13 Anggota Geng Motor di Sukabumi Positif Gunakan Obat-obatan Terlarang

DIPERIKSA: Petugas BNNK Sukabumi saat melakukan assesment terhadap puluhan anggota geng motor yang diduga positif menggunakan obat terlarang, Senin (12/3).

DIPERIKSA: Petugas BNNK Sukabumi saat melakukan assesment terhadap puluhan anggota geng motor yang diduga positif menggunakan obat terlarang, Senin (12/3).

Cari Aman

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sukabumi, melakukan penilaian (assesment,red) terhadap 27 anggota geng motor yang diduga positif mengkonsumsi obat terlarang.

Hal tersebut dilakukan, untuk kembali memastikan adanya penyalahgunaan obat-obatan tanpa resep dokter. Hasilnya, dari 27 anggota geng motor yang di-assesment, sebanyak 13 anggota diantaranya diduga positif menggunakan obatobatan terlarang dan akan mendapatkan rehabilitasi.

Hasil assesment BNNK Sukabumi dirujuk ke lembaga rehabilitasi yang ada di Sukabumi. Yaitu enam orang rencana terapi rehabilitasi di RSUD Sekarwangi dan tujuh orang lainnya di Lensa Sukabumi.

“Kami sudah melakukan assesment untuk memastikan penggunaan obat terlarang, sebelum dirujuk ke lembaga rehabilitasi,”kata Kepala BNNK Sukabumi, AKBP Deni Yus Danial, Senin (12/3/2018).

“Kemarin, baru 13 orang yang diperiksa. Sisanya besok (hari ini 13/3,red) akan kembali dilakukan pemeriksaan,”tuturnya.

Deni menjelaskan, pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani pengobatan dengan menempatkan mereka ke dalam lembaga rehabilitasi sosial. Pertimbangan tersebut, berdasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar pelaku kasus narkotika. Termasuk dalam kategori korban penyalahguna dan korban narkotika, yang secara tidak langsung merupakan orang sakit.

“Penempatan pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika ke lembaga rehabilitasi, sesuai Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, yaitu pasal 4 huruf d,”terangnya.

Isinya menyebutkan, untuk menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahguna dan pecandu narkotika. Penyalahgunaan narkoba sebagian besar di awali dengan upaya coba-coba, dalam lingkungan sosial. Semakin lama pemakaian, maka risiko kecanduan semakin tinggi.

“Jika terus dilanjutkan, maka dosis narkoba yang digunakan juga akan semakin besar untuk mencapai kondisi yang diinginkan atau teler,”ujarnya.

Hingga pada titik tidak mampu melewatkan satu hari tanpa narkoba. Sementara itu masih kata Deni, beberapa gejala yang menandakan seseorang sudah dalam tahap kecanduan. Misalnya saja, keinginan untuk mengonsumsi narkoba setiap hari atau beberapa kali dalam sehari, dosis yang dibutuhkan semakin lama semakin besar, keinginan menggunakan narkoba tak bisa ditahan.

“Jika dibiarkan tentunya hal ini sangat berbahaya bagi orang tersebut. Sehingga perlu penanganan yang serius salah satunya rehabilitasi,” tuturnya.

Diterangkan dia, kunci rehabilitasi narkoba adalah melakukannya secepat mungkin. Sebab itu, diperlukan dokter spesialis ketergantungan narkoba dengan bantuan psikiater ataupun konselor khusus di bidang ini.

Sebagaimana pecandu lain, pecandu narkoba seringkali menyangkal kondisinya dan sulit diminta untuk melakukan rehabilitasi. Biasanya, dibutuhkan intervensi dari keluarga atau teman untuk memotivasi, ataupun membuat pengguna narkoba mau menjalankan rehabilitasi.

“Setelah dilakukan assesment nanti, siapa saja yang akan direhabilitasi. Kalau memang terbukti, semuanya juga akan mendapat rehabilitasi,”tutupnya.

(radar sukabumi/Cr16)


loading...

Feeds