Pemkab Sukabumi Tolak Impor Beras, Kenapa?

Beras (Ilustrasi)./Foto: Istimewa

Beras (Ilustrasi)./Foto: Istimewa

Cari Aman

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Rencana impor beras yang digulirkan Pemerintah Pusat melalui Kementrian Perdagangan diprotes Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Pasalnya, rencana tersebut dinilai akan dapat merugikan petani lokal karena diakhir bulan ini petani akan melaksanakan panen raya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sukabumi, Sudrajat mengungkapkan, jika pemerintah pusat bersikukuh mengimpor beras diakhir bulan ini, maka akan bertabrakan dengan masa panen raya yang dimulai akhir Januari hingga Maret.
Selain itu, dampak lainnya harga beras petani lokal terancam anjlok karena kelebihan persediaan.

“Saya khawatir jika Kementrian Perdagangan tetap membuka impor beras, yang jadi korban nanti adalah petani lokal. Karena harga berasnya bakal anjlok, mengingat akhir bulan ini sampai Maret mendatang petani bakal panen raya,” ujarnya kepada Radar Sukabumi (Grup Pojokjabar), Jumat (12/1/2018).

Adapun tentang kenaikan harga beras yang terjadi dalam kurun waktu ini, Sudrajat menyebutkan hal itu karena faktor gagal panen pada Desember lalu. Pasalnya pada bulan itu, terdapat 4.135 hektar sawah yang panen, namun gabah yang dihasilkan hanya 25.472 ton. Sementara kebutuhan dibulan itu, setara dengan 20.835 ton beras.

“Kebutuhan beras pada bulan kemarin itu diangka 20.835 ton, sementara beras dari gabah 25.472 ton hanya menghasilkan 16.557 ton beras. Nah dampak dari kekurangan itu, dirasakan sampai sekarang, dengan berdampak pada kenaikan harga beras,” jelasnya.

Untuk menekan harga beras di pasaran, Sudrajat meminta agar Badan Logistik (Bulog) dapat mengeluarkan cadangan beras yang ada. Selain itu, dirinya juga menghimbau agar para pengumpul beras di Kabupaten Sukabumi dapat menjual ke pasar lokal sehingga tidak terlalu banyak pasokan beras ke luar daerah.

“Kami tidak bisa melarang penjualan beras yang ke luar, karena itu pasar bebas. Hanya saja, kenapa di pasar lokal juga harganya cukup tinggi setara dengan daerah luar,” imbuhnya.

Kekhawatiran rencana impor beras juga dilontarkan Baban (43), petani asal Kecamatan Cisaat. Menurutnya, pemerintah pusat harus mengkaji ulang rencana impor beras karena dapat merugikan petani lokal di daerah.

“Kalau bisa jangan lah, mau dijual kemana nanti hasil penen kami. Kapan petani bisa sejahtera jika demikian,” pungkasnya.

(radar sukabumi/cr15)


loading...

Feeds