14 Korban Pencabulan Bejad Depong Si ‘Predator Seks’ Divisum

foto:andri/radarsukabumi PEMERIKSAAN : Seorang Polwan tengah memeriksa seorang anak yang menjadi korban pencabulan tersangka DH alias Depong di Mapolsek Parungkuda, belum lama ini. Sebanyak 14 dari 16 korban sudah menjalani visum.

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Perkiraan bertambahnya jumlah korban pencabulan yang dilakukan tersangka DH (38) alias Depong, benar-benar terjadi. Sejak terungkapnya kasus tersebut pada akhir Januari lalu, kini sudah ada 16 korban pencabulan oknum pegawai TU berstatus honorer ini.

Dari 16 korban, 14 di antaranya sudah menjalani visum di RSUD BLUD Sekarwangi, Cibadak.

“Mereka sudah menjalani visum, tinggal menunggu hasilnya seperti apa,” ungkap Kapolsek Parungkuda, Kompol Dede Suharja kepada Radar Sukabumi, baru-baru ini.

Dede menuturkan, belum seluruhnya korban menjalani visum karena masih ada dua korban lagi. Rencananya visum akan dilakukan bersamaan jika ada tambahan korban lagi sesuai dengan perkiraan polisi.


Dijelaskannya, perkiraan ini beralasan sebab dari 16 korban, beberapa di antaranya merupakan siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang duduk di kelas satu dan dua. Akan tetapi, mereka baru menyadari perlakuan tersebut setelah kasus ini terungkap.

“Korban diperkirakan bakal bertambah, tapi mungkin masih ragu-ragu melapor karena merasa malu. Kami berharap korban untuk melapor,” jelasnya.

Dede menuturkan, seluruh korban mendapat perlakuan yang sama yaitu diminta memegang kemaluan tersangka. Adapun dugaan sodomi belum ada laporan korban mengenai hal itu.

Meski demikian, polisi terus mendalami kasus ini untuk menemukan fakta-fakta lainnya sehingga tidak menutup kemungkinan korban akan kembali dipanggil untuk melengkapi keterangan.

“Saat ini tersangka DH alias Depong sudah dilimpahkan kepada Polres Sukabumi,” terangnya.

Kasus pencabulan yang dilakukan Depong terungkap setelah orang tua korban melaporkan kejadian ini kepada polisi, akhir Januari lalu.

Awalnya korban berjumlah lima hingga bertambah menjadi tujuh anak lalu 13 anak dan kini menjadi 16 anak. Pencabulan tersebut dilakukan dengan meminta para korban memegang kemaluannya hingga mengeluarkan sperma.

Depong mengaku perbuatannya ini dilakukan sejak awal 2015 karena terdorong hasrat seksual. Meski demikian, mantan kernet sopir mobil tangki ini menampik jika mengalami kelain seks karena ia menyukai lawan jenis. Bahkan pada Oktober 2015, DH menikah dengan seorang perempuan berstatus janda.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat pasal 292 KUHP juncto pasal 289 KUHP kemudian dijunctokan 294 KUHP dan terakhir Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 dengan ancaman 15 tahun penjara.

(dri/t)