Naiknya Harga buat Pedagang Daging Sapi di Sukabumi Terancam Gulung Tikar

FOTO : DASEP/RADARSUKABUMI SEPI: Salah satu pedagang daging di pasar tradisional Kabupaten Sukabumi menjajakan dagangannya, senin (8/2).

POJOKJABAR.com, SUKABUMI – Puluhan pedagang daging di Kabupaten Sukabumi terancam gulung tikar. Hal ini dilatarbelakangi masih mahalnya harga daging sapi di semua pasar tradisional Kabupaten Sukabumi.

Akibatnya, puluhan pedagang mengurungkan niatnya untuk berjualan. Pasalnya, pedagang menilai mahalnya daging sapi tidak memberikan keuntungan bagi dirinya.

Soalnya, masyarakat enggan membeli dagangan yang mereka jajaki dan kerap kali sepi pembeli setiap harinya. Kalaupun masyarakat membeli daging sapi, tidak lebih dari setengah kilogram.

Pantauan Radar Sukabumi di lapangan, harga daging sapi di sejumlah pasar yang terbilang paling mahal, terjadi di Pasar Palabuhanratu dan Pasar Surade yang mencapai harga sekitar Rp 130 ribu/kilogram. Sementara di Pasar Cisaat serta Pasar Cibadak dan Pasar Parungkuda, mencapai Rp 120 ribu/kilogram.


Sementara itu, untuk di Pasar Sukaraja Rp 115 ribu/kilogram, di Pasar Sagaranten Rp 110 ribu/kilogram, dan Pasar Cicurug mencapai Rp 105 ribu/kilogram.

“Para pedagang sapi yang berada di Pasar Cisaat Kabupaten Sukabumi, kebanyakan tidak berjualan. Lantaran, masih mahalnya harga daging sapi yang berdampak pada sepinya pembeli,” tutur salah satu pedagang daging di Pasar Surade, Muhammad Soleh (49) kepada Radar Sukabumi, seninĀ (8/2).

Di samping karena masih mahalnya harga daging sapi, para pedagang menilai tidak menguntungkan mereka. Bahkan, bisa mengancam terjadinya kebangkrutan karena tidak dapat mengembalikan modal dagang.

“Kalau keadaannya terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan para pedagang akan mengalami kebangkrutan. Karena, susah bagi kami untuk mencari keuntungan dalam berjualan daging,” terangnya.

Terpisah, H Iwan (52) salah satu pedagang daging sapi di Pasar Sukaraja mengaku kesulitan menjual daging sapi ketika mahal di distributor. Pasalnya, para pedagang sulit mencari keuntungan lantaran bila dinaikkan, pembeli akan sepi.

Sementara jika diturunkan, kemungkian mereka yang akan merugi. Saat ini, para pedagang lebih memilih untuk menunggu harga daging sapi kembali normal.

“Situasi seperti ini membuat para pedagang merasa kesulitan. Bagaimana tidak, dinaikkan kami akan berimbas kepada sepinya pembeli, dikurangi kami akan rugi. Jadi, para pedagang lebih memilih untuk menunggu situasi kembali stabil,” terangnya.

Dirinya berharap, kenaikan harga daging sapi yang sekarang terjadi tidak berdampak terlalu jauh kepada para pedagang daging sapi. Apalagi, para pedagang harus mengalami gulung tikar akibat tidak terjualnya daging sapi yang telah mereka beli. Lantaran, tidak sedikit daging sapi yang dijajaki oleh para pedagang membusuk akibat tidak terjualnya daging sapi tersebut.

“Mudah-mudahan, masa-masa sulit bagi para pedagang daging sapi yang berada di Kabupaten Sukabumi dapat terlewati dengan baik serta tidak berdampak pada kebangkrutan,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Iyos Somantri mengatakan, Pemkab Sukabumi dan instansi terkait akan terus berupaya untuk menstabilkan kembali harga daging sapi di pasaran.

Untuk para pedagang yang terancam gulung tikar dirinya berharap semua itu tidak terjadi di Kabupaten Sukabumi. Lantaran, kenaikan harga daging sapi masih di angka kewajaran.

“Mudah-mudahan semua itu tidak terjadi, lantaran harga daging sapi di pasaran masih wajar. Serta, untuk menstabilkannya kembali kita akan berusaha dengan instansi terkait untuk mengendalikan semua itu,” ungkapnya. (cr5/d).