Pulsa Token Disoal, PLN Anggap Itu Tidak Benar

ilustrasi

ilustrasi

POJOKJABAR.com, CIKOLE – Menanggapi isu terkait jumlah isi listrik yang tidak sesuai dengan nominal yang ditentukan, seperti yang sempat ramai dibicarakan saat Rizal Ramli beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa isi token listrik atau listrik prabayar seharga Rp100.000 tersebut berisi Rp73.000.

Dedi Kusnaedi selaku bagian Humas PLN Persero Area Sukabumi menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Menurutnya, ini hanya terjadi kesalahpahaman saja pada persepsi masyarakat yang menganggap bahwa isi listrik prabayar tersebut berupa rupiah. Padahal sebetulnya, setiap pembelian pulsa listrik prabayar senilai Rp100.000 tersebut, yang diterima oleh pelanggan adalah 73 kilowatt hour (kWh). Terkait isu tersebut, pihaknya tidak merasa dirugikan, bahkan malah merasa senang karena dengan adanya isu tersebut justru memancing kekritisan konsumen akan pelayanan yang PLN berikan.

“Justru bagus, kalau banyak warga yang protes seperti kebakaran jenggot, lalu mereka kan cari tahu sendiri, tapi setelah dijelaskan kan baru mengerti,” terangnya saat ditemui Radar Sukabumi di kantornya yang bertempat di Jalan Bhayangkara No. 220 Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Rabu (16/9/2015).

Ia menjelaskan bahwa pada saat konsumen membeli pulsa listrik prabayar seharga Rp100.000 tersebut, mereka dikenakan biaya administrasi di antaranya biaya administrasi bank yang jumlah persennya tergantung dari tiap-tiap bank yang bersangkutan, yakni antara 2 hingga 3 persen. Lalu ada pula biaya pajak penerangan jalan umum yang harus dibayarkan, untuk wilayah Kota Sukabumi sebanyak 2 persen dan untuk wilayah Kabupaten Sukabumi sebanyak 5 persen. Selain itu, setiap transaksi keuangan di atas Rp300.000 juga akan dikenakan biaya materai.

“Intinya ada beberapa persen yang dibayarkan konsumen untuk keperluan administrasi, jadi tidak murni semuanya untuk pembelian kWh,” paparnya yang menjelaskan bahwa dalam pembelian pulsa prabayar tersebut tidak ada pengurangan dalam jumlah kWh-nya.

Ketika disinggung mengenai keterkaitan kenaikan harga dolar pada tarif listrik, Dedi mengaku hingga saat ini belum ada kenaikan untuk pelanggan-pelanggan rumahan, namun untuk pelanggan besar seperti industri kenaikan tersebut sudah terjadi sejak beberapa bulan yang lalu.

“Kalau buat industri udah naik dari beberapa bulan yang lalu, cuma ya nggak signifikan, tarifnya disesuaikan dengan kondisi dolar. Jika dolar turun pun, tarifnya pasti akan turun,” jelasnya.

Sementara itu, beberapa masyarakat banyak yang mengeluhkan gangguan listrik yang terjadi akhir-akhir ini. Kali ini gangguannya terbilang cukup parah sebab terjadi sejak pukul 10.00 WIB pagi hingga pukul 21.00 WIB malam. Terkait kejadian tersebut, Dedi atas nama PLN Persero mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pelanggan atas ketidaknyamanan tersebut. Pihaknya mengaku kesalahan tersebut terjadi pada Gardu Induk Lembursitu yang bertegangan 150 Kp. Hal tersebut dikarenakan karena masalah sepele, yakni ada binatang yang masuk pada panel PLN yang mengakibatkan trouble pada mesin-masin lainnya.

“Kemarin itu, troublenya sampai kena ke mesin-mesin lainnya dan mengeluarkan asap terbakar, tapi tidak terlalu parah sih,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya mengatakan bahwa untuk penormalannya kembali itu perlu dilakukan secara bertahap yakni mulai dari pukul 05.00 WIB sore hingga pukul 21.00 WIB malam.

Gardu Induk Lembursitu tersebut digunakan untuk menerangi daerah Kota Sukabumi, Sukabumi bagian Timur dan beberapa bagian Sukabumi Selatan. Saat terjadinya gangguan tersebut, pihaknya sempat melakukan penormalan di sebagian Wilayah Kota dengan dibantu oleh Gardu Induk Cibadak baru. Hal tersebut memang sengaja hanya dilakukan pada sebagian wilayah saja karena bebannya terlalu berat, sehingga tidak bisa menjangkau ke semua wilayah yang mengalami gangguan. Dedi mengaku kondisi trouble semacam ini tidak terlalu sering terjadi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Lagipula menurutnya, pihak PLN pun tidak menginginkan hal ini terjadi, sebab hal tersebut juga mengakibatkan kerugian kareana adanya energi listrik yang tidak terjual kepada konsumen.

“Jangankan masyarakat, PLN pun nggak mau ada gangguan listrik semacam itu. Jadi ini bukan faktor kesengajaan” ungkapnya.

Meski demikian, Dedi mengaku, gangguan semacam itu akan dijadikannya pembelajaran kedepan untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanannya. Hingga saat ini, upaya yang telah dilakukannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan tersebut selain dengan adanya PLN Payment Online Bank (PPOB) adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang ada didaerah-daerah baik secara langsung maupun melalui media elektronik seperti radio dan juga memberikan penyuluhan kepada pelanggan baru sebelum pemasangan listrik. (pkl7/t)

Feeds