Guru Korban Pemukulan Murid di Sukabumi Mengaku Sudah Memaafkan

BERSARANG 10 JAHITAN: Kadis P dan K Kota Sukabumi, Dudi Fathul Jawad dan jajarannya menjenguk Agung Aditya Saputra (25), korban yang dianiaya muridnya di RS Bhayangkara, Sukabumi.

Agung Aditya Saputra (25), korban yang dianiaya muridnya saat dirawat di RS Bhayangkara, Sukabumi.

POJOKJABAR.com, SUKABUMI- Kendati mengalami luka yang cukup para dibagian mata. Agung Aditya Saputra, guru korban pemukulan oleh murid mengaku sudah memaafkan muridnya itu, dan tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Sebenarnya beres kejadian kemarin kita sudah saling memaafkan, saya sih berharap siswa itu bisa menyadari kesalahannya, dan menghargai gurunya. Tapi untuk kasus hukum tidak akan saya laporkan, sebab bagaimanapun dia masih anak didik saya. Cukup diberikan pemahaman saja,” imbuh Agung saat ditemui di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara.

Sambil terbaring lemah, dirinya menjelaskan kronologi kejadian penganiayaan yang mirisnya dilakukan oleh siswanya sendiri. Mulanya saat jam pelajaran bahasa Sunda berlangsung tepatnya Selasa (15/9/2015) sekitar pukul 11.30 WIB. Saat mengajar, korban tidak mendapati kedua siswanya mengikuti pelajarannya.

Korban lalu mendapat informasi dari siswa lainnya, jika kedua siswa yang bersangkutan sedang tidur di ruang pramuka. Korban kemudian menyuruh ketua kelas untuk memanggil keduanya, namun sayang kedua murid itu tidak menghiraukan, malah tidak mau masuk kelas.

Geram dengan kedua siswanya, korban langsung menghampiri kedua muridnya ke ruang pramuka. Dibangunkannya kedua siswa tersebut, sambil berkata ‘Kamu mau tidur atau belajar di sini?,’ Sambil menyolot, salah satu siswa menjawab ‘Mau tidur’.

Merasa tak dihargai, korban mengancam kepada kedua siswanya agar tidak usah mengikuti pelajarannya selama satu tahun. Mendengar ucapan tersebut, siswa itu pun balas menjawab ‘Biasa saja ngomongnya Pak’. Lantaran kesal, korban mendekati siswa itu, sehingga terjadilah percekcokan di antara mereka. Hingga oknum siswa ini langsung menonjok ke arah mata kiri gurunya sampai melukai matanya dan mengeluarkan darah.

“Dia duluan yang mukul, tidak hanya itu, dia langsung meluk saya dari belakang dan memukul di bagian kepala belakang dan dada saya sehingga sekarang saya sering pusing dan dada sesak napas,” ujar korban menjelaskan.

Baca Juga: Tak Mau Ditegur, Murid Pukul Guru

Korban mengaku, penganiayaan terhadapnya dilakukan oleh satu orang siswa, sedangkan satu siswa lainnya hanya diam, dan melihat penganiayaan itu. Peristiwa ini berlangsung selama kurang lebih 15 menit, dan baru berhenti pasca oknum siswanya ini tersadar banyak darah berceceran di lantai, dan melepaskan korban.

Diakui korban, dirinya tidak melawan, dan membiarkan oknum siswa itu memukuli wajah dan badannya. Sebab, korban khawatir bila dilawan anggapannya akan lain. Korban masih sadar tugas dan kewajibannya sebagai pendidik.

“Gimana mau melawan, badan saya dikunci sama dia,” terangnya.

Masih kata korban, dalam kesehariannya oknum siswa itu prilakunya seperti biasa saja, tidak menonjolkan siswa yang nakal. Makanya Ia heran, kenapa dia berbuat yang tidak patut dicontoh.

“Yah saya sih tahu dia dari kelas X, dan kalau anak-anak nalak sudah biasa saya hadapin tetapi kalau sampai seperti ini baru pertama kali. Anaknya biasa saja, malah ada yang lebih nakal dari dia tetapi kalau saya geretak juga anaknya biasa aja langsung nurut, tetapi kenapa dia bisa seperti itu,” ucapnya sambil terbaring lemah.

(radar sukabumi/wdy/lan)

Feeds