Kadisnak Dicecar 27 Pertanyaan

BERI KETERANGAN:Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Kabupaten Sukabumi, Iwan Karmawan bertemu wartawan usia menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Tindak Pidana Khusus terkait kasus Bansos sapi.
BERI KETERANGAN:Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Kabupaten Sukabumi, Iwan Karmawan bertemu wartawan usia menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Tindak Pidana Khusus terkait kasus Bansos sapi.
BERI KETERANGAN:Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Kabupaten Sukabumi, Iwan Karmawan bertemu wartawan usia menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Tindak Pidana Khusus terkait kasus Bansos sapi.

POJOKJABAR.id, CIBADAK – Pengungkapan kasus bansos sapi kelompok ternak Goalpara tak sebatas melakukan pemeriksaan terhadap peternak. Lebih dari itu, Kejari Cibadak juga memanggil Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Kabupaten Sukabumi, Iwan Karmawan untuk menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Tindak Pidana Khusus, SeninĀ (31/8/15). Pemeriksaan tersebut terkait kasus dugaan tipikor pada Bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Pengembangan Pembibitan Sapi Perah tahun anggaran 2006/2007.

Pantauan Radar Sukabumi, Iwan menjalani pemeriksaan sejak pukul 08.30 WIB hingga menjelang petang. Ia dicecar tim penyidik dengan 20 lebih pertanyaan. Tampak raut wajah Iwan yang layu saat keluar dari ruang tim penyidik. Ia langsung merebah di teras kejaksaan pertanda melepas lelah.

“Iya, saya dipanggil sebagai saksi dalam kasus ini. Kurang lebih 27 pertanyaan yang disampaikan tim penyidik,” ujar Iwan Karmawan kepada Radar Sukabumi.

Ia menyebutkan, terjadinya kasus ini bukan pada saat ia memimpin melainkan saat kepemimpinan Ichwanudin. Sehingga dalam pemeriksaan ini, ia datang dengan kapasitas sebagai saksi dan langsung menjelaskan kasus sapi yang mencapai Rp4,3 miliar itu.


“Meskipun bukan di zaman saya, tapi karena saat ini saya menjabat sabagai Kadisnak, maka saya dimintai keterangan dalam kasus ini,” ungkapnya.

Iwan menjelaskan, dalam kasus ini 14 sapi sudah dikembalikan kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Pasalnya, bantuan dari Kementerian Peternakan (Kementan) telah dihibahkan kepada Pemda Sukabumi.
Empat ekor di antaranya dikembalikan pada 2014 dan sepuluh ekor dikembalikan pada Juni tahun ini. Sementara jumlah akumulasi sapi tersebut, pada gelombang pertama sebanyak 120 ekor pada 2006 dan gelombang kedua sebanyak 231 ekor pada 2007.

“Yang wajib dikembalikan itu 70 persen dari jumlah sapi. Sementara saat ini baru 14 ekor yang dikembalikan,” jelasnya.

Selain itu, Iwan juga mengaku terlibat dalam tim yang dibentuk Bupati Sukabumi, Sukmawijaya saat menjabat. Hanya saja, tim mengalami kesulitan lantaran semua sapi telah tiada atau raib. Diduga, selain sapi tersebut ada yang mati, juga telah dijual oleh pengurus.

“Sapinya tidak ada. Diduga dijual oleh pengurus kelompoknya,” jelasnya.

Dijelaskan Iwan, regulasi bantuan sapi ini ditujukan untuk pengembangan pembibitan. Dimulai dari pedet (usia 0-9 bulan, red) hingga sapi tersebut bunting. Jika sudah masa lima tahun, sapi tersebut wajib dikembalikan. Kelompok penerima hanya memiliki hak terhadap anak sapi yang dilahirkan itu.

“Seharusnya 2013/2014 ini sapi itu dikembalikan. Tapi karena sapi itu gak ada, makanya bergulir di kejaksaan,” tandasnya.

Sementara itu, Kajari Cibadak, Diah Ayu L.I Akbari menambahkan, pemeriksaan Kadistan Kabupaten Sukabumi ini dalam upaya menambah keterangan dalam kasus dugaan tipikor bantuan sapi. Mengingat, kasus tersebut kini tengah masuk pada tahap penyidikan dan tidak lama lagi akan ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

“Untuk menambah keterangan dalam kasus dugaan tipikor sapi ini. Calon tersangka sudah kita kantongi,” singkatnya. (ren)