Bentengi Pelajar dengan Akhlak, Bentuk Sikap Positif

KETAT : Pihak sekolah tak memberikan kebebasan kepada siswanya untuk keluar masuk sekolah sebelum jam belajar-mengajar berakhir.
KETAT : Pihak sekolah tak memberikan kebebasan kepada siswanya untuk keluar masuk sekolah sebelum jam belajar-mengajar berakhir.
KETAT : Pihak sekolah tak memberikan kebebasan kepada siswanya untuk keluar masuk sekolah sebelum jam belajar-mengajar berakhir.

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Sekolah berbasis agama, makin banyak dilirik berbagai kalangan di Sukabumi. Hal itu didasari pada beberapa keunggulan yang di berikan, dalam penerapan pembelajaran kepada para peserta didiknya. Wakil Kepala Madrasah Aliah (MA) Jamiyyatul Muta’allimin Kota Sukabumi, Havidzt Sutansyah menilai, keparcayaan orang tua murid untuk menitipkan anaknya agar menimba ilmu di sekolah berbasis agama saat ini juga banyak dilakukan.

“Sebab, pembelajarannya dianggap sebagai salah satu solusi terbaik dalam memberikan pendidikan untuk anak sejak usia dini sampai tahap remaja,”ujarnya kepada Radar Sukabumi, Senin (31/8/15).

Selain itu, pembelajaran yang diterapkan juga tertuju pada pendidikan akhlak. Apalagi saat ini pendidikan akhlak sangat dibutuhkan para remaja yang nota bene sudah banyak terpengaruh kebiasan buruk dari luar.

“Kita tidak bisa pungkiri, jika akulturasi budaya luar sangat mendominasi perubahan tingkah laku para remaja masa kini. Oleh karenanya, pendidikan akhlak yang dilakukan sekolah berbasis keagamaan punya peranan penting,”tuturnya.


MA Jamiyyatul Muta’allimin yang berlokasi di Jl. Nagrak Taman Bahagia Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi ini merupakan sekolah berbasis agama.

“Kami merapkan sistem pesantren kepada para peserta didik. Seperti melakukan shalat sunah dhuha sebelum melaksanakan pembelajaran di waktu pagi, serta bersama-sama berjamaah salat dzuhur dengan para staf guru di sela-sela istirahat siang,”tuturnya.

Agar lulusannya berkualitas, pihaknya juga eksis dalam mengembangkan ekstrakulikuler bagi para pelajarnya seperti marching band serta marawis.

“Kami juga tak hanya berfokus pada pembelajaran saja. Untuk pengembangan peserta didik, kami membuat beberapa ekstrakulikuler. Alhamdulillah membuahkan hasil positif. Misalnya, pernah menjadi juara marching band tingkat MA se-Jawa Barat (Jabar),” terang Havidzt.

Sementara itu, salah satu siswa (MA) Jamiyyatul Muta’allimin, Devi Firmansyah membenarkan hal tersebut. Selama mengenyam pendidikan di madrasah aliyah ini, banyak sekali perubahan positif yang didapat, lantaran seringnya diterapkan kegiatan keagamaan di sekolah.

“Alhamdullah saya saat ini tidak malas-malasan lagi dalam beribadah, karena saya rasakan langsung kenikmatan serta kesejukan setelah melakukan kebiasaan tersebut,” ujarnya. (cr7/t)