Aliran Sesat Masih Mengancam

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKJABAR.id, SUKABUMI – Kasus penyembah matahari serta pembakaran Alquran yang terjadi belum lama ini, menjadi perhatian serius Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi. Kejadian tersebut menjadi cerminan jika aliran sesat masih menjadi ancaman hingga kini dan patut diwaspadai, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pelosok daerah.

“Berdasarakan hasil penelitian yang kami lakukan, kawasan perkebunan dan pantai merupakan daerah sasaran yang sering didatangi oleh penganut aliran sesat,” ungkap Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi, Hilmy Rivai, kepada Radar Sukabumi.

Hilmy menjelaskan, daerah pinggir pantai dan perkebunan menjadi sasaran penyebaran aliran sesat sebab lokasinya sulit dijangkau oleh gerakan dakwah. Salah satu contoh, baru-baru ini Kampung Cibeas Desa Simpenan Kecamatan Simpenan didatangi sekelompok orang yang bertujuan menyebarkan aliran sesat. Untunglah sebagian masyarakat di kampung tersebut memiliki fondasi agama yang kuat sehingga penyebaran aliran sesat dapat dicegah.

“Adanya aliran-aliran sesat tersebut harus kita waspadai serta harus kita cegah penyebarannya,” terangnya.


Ia mengungkapkan, di Provinsi Jawa Barat terdapat kurang lebih 300 aliran sesat yang terdeteksi termasuk salah satunya Ahmadiyah yang para pengikutnya masih aktif melakukan gerakan penyebaran aliran sesat tersebut. Tidak menutup kemungkinan, di antara aliran-aliran sesat tersebut beberapa di antaranya membuka pos penyebaran di wilayah Kota maupun Kabupaten Sukabumi. Inilah yang harus kita waspadai.

“Saya mengajak semua unsur di tengah masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap penyebaran aliran sesat,” imbuhnya.

Dalam hal ini, salah satu upaya menghalau penistaan agama dan aliran sesat bila keislaman dan keimanan tetap terjaga dan dijalankan oleh masyarakat Kabupaten Sukabumi.

“Mari kita sama-sama meningkatkan kewaspadaan, jangan terbujuk rayu serta merealisasikan keimanan dan keislaman kita,” tandasnya. (cr5/d)