Penderita Thalaesemia Butuh Pendonor Tetap

MEMPRIHATINKAN: Sejumlah anak-anak penderita thalaesemia berfoto bersama usai acara silaturahmi Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalaesemia Indonesia (POPTI) Cabang Sukabumi di Rumah Sakit Setukpa Polri.
MEMPRIHATINKAN: Sejumlah anak-anak penderita thalaesemia berfoto bersama usai acara silaturahmi Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalaesemia Indonesia (POPTI) Cabang Sukabumi di Rumah Sakit Setukpa Polri.
MEMPRIHATINKAN: Sejumlah anak-anak penderita thalaesemia berfoto bersama usai acara silaturahmi Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalaesemia Indonesia (POPTI) Cabang Sukabumi di Rumah Sakit Setukpa Polri.

POJOKJABAR.id, GUNUNGPUYUH – Pendonor darah bagi penderita thalaesemia adalah hal sangat penting untuk keberlangsungan hidup mereka. Namun, saat ini kesadaran masyarakat untuk menyumbangkan darahnya sangat minim.

“Penderita thalaesemia sangat bergantung kepada pendonor darah, sementara tingkat pendonor masih kurang. Mereka (penderita) mengelukan kondisi seperti ini,” ujar Pembina Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalaesemia Indonesia (POPTI) Cabang Sukabumi, dr Shinta W. S Mars usai silaturahmi bersama penderita thalaesemia di Rumah Sakit Setupa Polri, Minggu (30/8/15).

Sinta mengatakan, satu anak penderita thalaesemia bisa membutuhkan dua hingga tiga labu darah dalam kurun waktu sebulan, berarti harus mempunyai pendonor tetap maksimal tiga orang dalam sebulan. Bahkan, ada anak penderita yang membutuhkan hingga enam labu darah setiap bulannya. Terlebih darah yang lebih bagus harus darah yang baru, artinya darahnya langsung dari pendonor tanpa disimpan dalam jangka waktu yang lama.

“Dengan kondisi tersebut sangat menyulitkan penderita untuk melakukan transfusi, karena harus mencari pendonorl. Bisa sampai berhari-hari untuk menunggu orang yang peduli, sementara bagi si penderita itu urgent,” jelasnya.


Maka dari itu, POPTI terus melakukan berbagai upaya melalui berbagai kegiatan untuk bisa mengetuk para dermawan untuk mau menyumbangkan darahnya, salah satunya dengan menggandeng Persatuan Donor Darah Indonesia (PDDI) Kota Sukabumi yang siap mendukung langkah POPTI. “Program POPTI bersama PDDI saat ini mencari pendonor darah tetap, masing-masing anak minimalnya mempunyai enam orang pendonor tetap,” terangnya.

Pentingnya pendonor tetap, lanjut Sinta, untuk menghindari dan meninimalisasi penyakit komplikasi. Untuk itu tidak boleh sembarang mencari pendonor darah, setiap penderita wajib mempunyai pendonor tetap. “Terkecuali jika memang dalam keadaan darurat dan tidak ada sama sekali pendonor,” jelasnya.

Sementara saat ini, jumlah penderita yang tercatat di POPTI Sukabumi mencapai 143 orang, yang didominasi oleh balita dan anak-anak. Sementara yang paling dewasa berusia 38 tahun. “Untuk fasilitas kami rasa sudah cukup, karena digunakan secara bergantian bila hendak transfusi,” tuturnya.

Untuk bantuan pemerintah daerah sendiri bagi penderita thalaesemia belum signifikan. Sampai sekarang para penderita kebanyakan pemegang kartu BPJS masih harus membayar setiap bulannya. “Kami sudah ajukan program gratis ke pemkot dan pemda, namun belum terealisasi,” ungkapnya.

Sementara itu, orang tua penderita thalaesemia, Riri Satiri mengaku untuk mencari pendonor tetap itu tidak mudah, karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui pentingnya donor darah. Untuk itu Riri berharap ada bantuan dan dukungan pemerintah untuk mencari dan mengetuk hati masyarakat agar melakukan donor darah. “Saat ini memang saya cukup kesulitan, harus kerja keras mencari pendonor tetap,” ujarnya. (bal)