KPA Gelar Rakor Evaluasi HIV/AIDS

RAKOR: Para pengurus KPA mengadakan rapar kerja (rakor).
RAKOR: Para pengurus KPA mengadakan rapar kerja (rakor).
RAKOR: Para pengurus KPA mengadakan rapar kerja (rakor).

POJOKJABAR.id, CIKOLE – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi, bersama 15 instansi dan lembaga terkait seperti Pokja KPA, WPA, Layanan Kesehatan, PMI dan Lapas mengevaluasi perjalanan program Penanggulangan AIDS Kota Sukabumi selama semester 10 di Ruang Pertemuan Sekretariatan KPA Kota Sukabumi. Pertemuan evaluasi yang dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua KPA, Dede Nurdin, bertujuan untuk melakukan sinkronisasi program antar instansi/lembaga terkait penanggulangan HIV/AIDS di Kota Sukabumi.

Instansi/lembaga yang dimaksud ialah Dinkes, BPMPKB, Dinsos, Lapas, PMI, PKM Sukabumi, Selabatu dan Cipelang, RS Asyifa, WPA, Tim PKK. Sekretaris KPA Kota Sukabumi menyampaikan bahwa program Penanggulangan AIDS Kota Sukabumi merupakan amanat KPA Nasional untuk mengurangi epidemi penularan HIV baru.

Pertemuan evaluasi ini membahas tujuh permasalahan lapangan yang ditemui, yaitu stigma dan diskriminasi oleh sebagian petugas kesehatan dan masyarakat terhadap ODHA (sebutan untuk pengidap HIV/AIDS, red), kendala waktu kunjungan populasi kunci ke layanan puskesmas, belum terlokalisasinya kelompok berisiko, kader yang telah terlatih tidak aktif dalam penjangkauan, obat ARV (antiretroviral) sudah tersedia di RSUD Syamsudin SH, tapi masih sedikit ODHA yang melanjutkan pengobatan di RSUD.

Kegiatan Voluntary Counseling Test (VCT) merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan pengidap HIV harus terus dilakukan, layanan buat ibu hamil dengan HIV. Dalam kegiatan ini banyak masukan yang disampaikan oleh paserta rakor KPA. Ketua Pokja KIE, Suprapto mengatakan, untuk kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan KPA, Pokja KIE siap mendukung dengan menyiapkan seluruh kebutuhan KIE.


”Kami siap dukung program sosialisasi yang gencar dilaksanakan KPA, kebutuhan siap dikoordinasikan dengan pokjanya,” katanya.

Selain persiapan logistic KIE, Ketua Pokja KIE Kota Sukabumi juga mengusulkan adanya data jejak rekam medis ODHA sehingga dapat dipantau sejauh mana pengobatan yang sudah dilakukan, sehingga ini salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penularan HIV.

Sementara itu, Kabid KB pada BPMPKB, Rita Fitrianingsi, menambahkan banyak program di dinasnya yang bisa dilakukan bersama dengan KPA. Salah satunya program Genre yang di dalamnya membawa misi memerangi HIV. Ke depan untuk pemilihan duta HIV, harapannya bisa kerja sama dengan BPMPKB yang memiliki program Duta Genre.

Sedangkan, Kabid Dikdas pada Dinas P dan K, Dian Suciati, sangat mengapreasiasi kegiatan yang sudah dilakukan KPA dalam MPLS, sekitar 5500 siswa melek HIV. Harapan program ini juga bisa dilakukan di seluruh sekolah yang belum didatangi KPA. Karena banyak permintaan dari sekolah untuk dilakukan sosialisasi HIV.

“Kami Dinas P dan K juga memiliki program yang tujuannya untuk mengedukasi bahaya HIV di lingkungan sekolah,“ jelasnya.

Dalam pertemuan ini juga dibahas terkait program yang sudah dilaksanakan KPA. Dalam semester 10 periode Januari sampai Juni. Berdasarkan program yang sudah dilaksanakan dari hasil evaluasi masih banyak yang harus diperbaiki. Namun dari hasil kerja pada semester 10, banyak perbaikan yang cukup signifikan.

Hasil Evaluasi Nasional KPA Kota Sukabumi dinilai KPA Kota yang paling produktif dalam pelaporan kegiatan kelembagaan. Ini meninggalkan kota/kabupaten lainnya di Jawa Barat. Ini merupakan tantangan baru bagi KPA Kota Sukabumi untuk terus mempertahankan prestasinya. (wdy/d)