DPRD Minta Sekolah Jangan Asal Study Tour

Ketua Komisi III DPRD Kota Sukabumi Gagan Rachman.
Ketua Komisi III DPRD Kota Sukabumi Gagan Rachman.
Ketua Komisi III DPRD Kota Sukabumi
Gagan Rachman.

POJOKJABAR.id, CIKOLE – Ketua Komisi III DPRD Kota Sukabumi, Gagan Rachman mengimbau kepada sekolah agar lebih bijaksana dalam melaksanakan study tour. Jangan sampai memberatkan orang tua siswa, terlebih harus mengutamakan nilai edukasi bukan liburan.

“Study tour jangan dijadikan rekreasi namun harus memiliki orientasi yang jelas. Apa yang akan diberikan oleh tempat tersebut untuk mendapatkan nilai edukasi bagi anak,” jelasnya.

Meskipun acara study tour masih lama dilakukan sekolah, namun Gagan menilai kegiatan tersebut harus memiliki pertimbangan yang matang. Apalagi mengenai biaya, seharusnya tidak memberatkan orang tua siswa.

“Saya mendapat laporan dari masyarakat, banyak orang tua yang mengeluhkan masalah biaya,” ungkapnya.


Tak hanya itu saja, kata Gagan, kegiatan study tour ini pun tidak menjadi keharusan dilaksanakan di tempat yang jauh serta mahal. Karena harus disadari, tidak semua orang tua siswa memiliki kemampuan keuangan yang sama. Apalagi, zaman sekarang ini, meskipun biaya pendidikan gratis namun tetap biaya komponen lainnya cukup besar.

“Harus diakui orang tua memiliki beban yang banyak, selain pendidikan anak, ada juga komponen lain yang memerlukan biaya tidak sedikit. Pihak sekolah harus memikirkan hal itu, jadi jangan menjadi beban bagi orang tua,” jelasnya.

Gagan menjelaskan, jika pun sekolah tetap akan menyelenggarakan study tour, pihak sekolah harus memikirkan biaya atau keuangan bagi orang tua siswa yang tidak mampu. Jangan sampai ada siswa yang tidak ikut karena tidak mempunyai uang untuk berangkat, ditakutkan nantinya siswa tersebut memiliki beban moral.

“Orang tua memaksakan kehendaknya dengan meminjam uang ke mana-mana, supaya anaknya itu ikut, karena takut anaknya menjadi minder. Nah, di sini peran sekolah bagaimana itu tidak terjadi,” ungkapnya.

Anggota DPRD dari Fraksi PDIP mengusulkan kepada pihak sekolah agar bisa membantu siswa yang tidak mampu. Bisa saja, sekolah menyisihkan uang sumbangan dari orang tua siswa yang mampu untuk membiayai yang tidak mampu.

“Apa salahnya kalau orang tua siswa yang kaya membagi rezeki dengan orang siswa miskin, sisihkan untuk membantu mereka. Jadi tidak akan ada siswa yang tidak ikut,” pungkasnya. (bal/d)