Sawah Mengering, Petani Pontang-Panting

GAGAL PANEN: Salah seorang petani terlihat lesu karena lahan sawahnya yang mulai mengering.
GAGAL PANEN: Salah seorang petani terlihat lesu karena lahan sawahnya yang mulai mengering.
GAGAL PANEN: Salah seorang petani terlihat lesu karena lahan sawahnya yang mulai mengering.

POJOKJABAR.id, WARUDOYONG – Kekeringan yang sudah sejak lama melanda beberapa daerah, tentu mengakibatkan dampak yang buruk pada sektor pertanian. Kurangnya pengairan ini menyulitkan para petani untuk menanam padi. Meski sebelumnya pemerintah melarang untuk menanam padi pada musim ini dengan alasan pasokan air yang tidak akan cukup, namum para petani tetap nekat menamam karena didorong oleh kebutuhan padi yang tidak cukup sampai panen nanti kalau tidak langsung ditanam.

Haeni (56), salah seorang petani yang berasal dari Desa Benteng RT 03/02, Kelurahan Benteng Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi menceritakan buruknya kondisi sawahnya saat ini. Menurut pengakuannya, sudah tiga periode ini, sawahnya mengalami gagal panen. Penyebab utamanya tentu saja karena musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan lahannya kering sehingga sulit untuk menanam padi. Beruntung, belum lama ini sempat turun hujan meskipun dalam jumlah yang tidak banyak, sawahnya bisa sedikit terairi untuk menanam padi kembali.

“Sekarang sudah mulai nanem lagi, tapi nggak tahu berhasil atau nggaknya nih,” ujar Haeni kepada Radar Sukabumi, Jumat (28/8/15).

Ketika disinggung terkait perhatian pemerintah dalam menyikapi hal ini, ia menuturkan bahwa memang dari kelompok pertanian para petani diberi bantuan berupa pupuk sebanyak dua karung. Namun, hal tersebut dinilainya belum menjadi solusi atas permasalahan sawahnya, sebab meskipun diberi pupuk, dalam keadaan kekeringan seperti ini tetap saja padinya tidak bisa tumbuh dengan baik. Hasilnya, produksi padinya lebih sedikit dengan kualitas yang kurang baik pula.


“Mau bagaimana lagi, sawahnya butuh air. Sedangkan air susah, ini yang bikin kita kewalahan,” ujar wanita paruh baya yang menggarap delapan petak sawah milik orang lain tersebut.

Dengan kondisi seperti ini, ia hanya bisa pasrah. Jika sebelumnya saat panennya berhasil, dari empat petak sawah yang digarapnya, ia dapat menghasilkan 1 ton padi. Hasil panen tersebut biasanya dijemput oleh para tengkulak dan dihargai per kuintalnya seharga Rp350 ribu. Kali ini, ia kurang optimis dengan hasil panen berikutnya, pasalnya sudah tiga kali periode panennya berturut-turut, hasilnya merupakan yang terparah sejak terjadinya kekeringan ini. Ia hanya bisa berharap pihak pemerintah dapat membantunya dengan mengupayakan sistem pengairan, agar lahannya bisa kembali subur dan menghasilkan padi yang baik seperti waktu-waktu sebelumnya. (pkl7/t)