Puluhan Warem Dibongkar

DIROBOHKAN: Salah satu bangunan liar yang dijadikan warung remang-remang di Jalan Raya Gunungkarang Desa Sekarwangi Kecamatan Cibadak dibongkar paksa petugas gabungan dari Linmas Desa Sekarwangi, Satpol PP Kecamatan Cibadak.
DIROBOHKAN: Salah satu bangunan liar yang dijadikan warung remang-remang di Jalan Raya Gunungkarang Desa Sekarwangi Kecamatan Cibadak dibongkar paksa petugas gabungan dari Linmas Desa Sekarwangi, Satpol PP Kecamatan Cibadak.
DIROBOHKAN: Salah satu bangunan liar yang dijadikan warung remang-remang di Jalan Raya Gunungkarang Desa Sekarwangi Kecamatan Cibadak dibongkar paksa petugas gabungan dari Linmas Desa Sekarwangi, Satpol PP Kecamatan Cibadak.

POJOKJABAR.id, CIBADAK – Sejumlah bangunan liar di Jalan Raya Gunungkarang Desa Sekarwangi Kecamatan Cibadak dibongkar paksa petugas gabungan dari Linmas Desa Sekarwangi, Satpol PP Kecamatan Cibadak dan Bagian Keagamaan Kabupaten Sukabumi, Jumat (28/8/15).

Pembongkaran dilakukan sebab bangunan yang difungsikan sebagai warung tersebut kerap menjual minuman keras serta tempat berkumpulnya wanita penghibur atau warung remang-remang (warem). Bangunan tersebut berdiri secara liar atau tidak mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB).

Dari data di Kecamatan Cibadak, terdapat 22 titik bangunan yang melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 dan 6 tahun 2015 di Kecamatan Cibadak. Sebagian bangunan berdiri di atas tanah milik PT Holcim. Pembongkaran yang dilakukan petugas baru sebagian saja, sisanya pemilik warung yang akan membongkarnya.

Kepala Bagian (Kabag) Keagamaan Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar mengatakan, sebelum pembongkaran dilakukan, pihaknya menerima pengaduan dari warga Desa Sekarwangi yang merasa risih dengan aktivitas warung-warung tersebut. Pasalnya, warga kerap menemukan warung yang menjual miras dan melakukan tindakan asusila.


“Ada surat pengaduan dari warga yang merasa keberatan atas aktivitas warung-warung ini. Kami pun waktu itu langsung melakukan pendataan dam verifikasi terhadap legalitas bangunan. Ternyata, bangunan ini tidak berizin dan berdiri di atas tanah milik PT Holcim,” ujar Ali.

Setelah dipastikan warung tersebut tidak mengantongi izin, pihaknya juga menerima surat dari PT Holcim selaku pemilik tanah yang isinya mendukung penuh penegakan aturan daerah dengan mempertimbangan kenyamanan warga sekitar dan norma sosial. Sehingga dalam eksekusinya, Pemkab Sukabumi menggandeng pihak Holcim.

“Sebelum dibongkar hari ini, kami sudah layangkan surat pemberitahuan kepada pemilik warung untuk membongkar warung secara sendiri. Sebagian ada yang sudah membongkar, ada juga yang belum. Bagi yang belum, kami kasih deadline waktu sampai Senin mendatang,” imbuhnya.

Disinggung adakah kompensasi yang akan diberikan kepada pemilik warung, Ali menyebutkan jika ada pemilik warung yang meminta, sebagai uang kadeudeuh pihaknya akan memberikan uang sebanyak Rp500 ribu kepada setiap pemilik warung.

“Tentunya kami tidak bisa memberi lebih dari itu. Ini hanya uang kadeudeuh saja,” singkatnya.

Sementara itu, salah satu pemilik warung, Nita (33) mengaku sudah 11 tahun tinggal di warung yang dibongkar tersebut. Ia menyadari mendirikan bangunan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik tanah. Sehingga, ia tidak akan meminta ganti rugi lantaran tempat mencari nafkahnya itu dibongkar.

“Gak apa-apa pak dibongkar juga, bukan tanah milik saya kok. Hanya numpang cari rezeki aja di sini meskipun tak meminta izin kepada pemilik tanah. Ini bukan warung remang-remang pak, ini warung kopi dan Indomie saja. Tidak lebih dari itu,” ujarnya. (ren)